Sunday, May 11, 2014

Penyakit Riya

Oleh : Ridwan Hamidi, Lc

Nash-nash al Qur`an dan as Sunnah menunjukkan bahwa riya adalah perbuatan haram dan mencela pelakunya. Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa telah berfirman :

فويل للمصلين(4)الذين هم عن صلاتهم ساهون(5)الذين هم يراءون(6) (سورة الماعون)

فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا(سورة الكهف:110)

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قال الله تبارك وتعالى : أنا أغنى الشركاء عن الشرك من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman : “Aku Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa yang beramal dengan menyekutukanku, maka Aku tinggalkan dia dan perbuatan syiriknya.” (HR Imam Muslim no 2985)

Dan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda :

إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر قالوا يا رسول الله وما الشرك الأصغر قال الرياء إن الله تبارك وتعالى يقول يوم تجازى العباد بأعمالهم اذهبوا إلى الذين كنتم تراءون بأعمالكم في الدنيا فانظروا هل تجدون عندهم جزاء

“Sesungguhnya yang paling saya takutkan pada kalian adalah syirik paling kecil” Para sahabat bertanya : “Apa yang dimaksud syirik paling kecil itu?” Beliau menawab : “Riya`” Sesungguhnya Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman pada hari semua amal hamba dibalas (hari kiamat) : “ Datangilah orang yang dulu kalian tunjukkan amal kalian padanya di dunia, lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka.” (HR Ahmad no 22742 dan Al Baghawi. Syekh al Albani berkata : sanadnya baik (jayyid) (lihat Silsilah Hadits Shahihah no 951)

Abu Umamah al Bahiliy melihat seorang lelaki di dalam masjid sedang menangis ketika sujud, kemudian beliau berkata : “Anda, seandainya ini anda lakukan di rumah anda (tentu lebih baik).”

HAKEKAT RIYA`

Kata riya` berasal dari kata ru`yah (melihat). Asalnya adalah mencari kedudukan di hati manusia dengan menunjukkan kepada mereka berbagai perangai dan sifat baik. Adapun yang ditunjukkan kepada manusia cukup banyak, namun bisa dikelompokkan menjadi lima bagian, yang semuanya merupakan sarana yang biasa digunakan oleh seorang hamba untuk berhias di hadapan manusia, yaitu : fisik (badan), pakaian, perkataan, perbuatan, pengikut, dan barang-barang yang tampak di luar.

Adapun riya` dalam agama dengan badannya adalah dengan menampakkan keletihan dan kelelahan yang mengesankan kerja keras, merasa sedih memikirkan berbagai persoalan agama dan sangat takut dengan akhirat.

Adapun riya` dengan penampilan dan pakaian seperti rambut kusut, menundukkan kepala ketika berjalan, sangat tenang dalam melakukan aktivitas dan membiarkan bekas sujud menempel di wajahnya.

Riya` dengan perkataan seperti riya` yang dilakukan oleh orang-orang mendalami agama dengan memberikan mau’izhah (nasehat), peringatan dan berbicara dengan kata-kata hikmah (mutiara) dan atsaar (Hadits Nabi atau perkataan ‘ulama`) untuk menampakkan perhatiannya dengan perbuataan orang-orang shaleh serta menggerakkan kedua bibirnya untuk bedzikir di depan orang banyak.

Riya` dengan amal seperti riya`nya orang yang shalat dengan memanjangkan berdiri, sujud dan ruku’, menundukkan kepala dan tidak menoleh.

Sedangkan riya` dengan teman dan orang-orang yang mengunjungi seperti orang yang meminta seorang alim ulama mengunjungi supaya dikatakan bahwa (alim) fulan sudah mengunjungi fulan.

TUJUAN RIYA`

Orang yang riya` mempunyai tujuan-tujuan yang bisa kita bagi menjadi beberapa tingkat,

Pertama : Tujuannya adalah agar ia dapat lebih leluasa berbuat ma’siyat. Seperti orang yang riya` dengan menampakkan taqwa dan wara`. Tujuannya agar dikenal orang sebagai orang yang mempunyai sifat amanah kemudian orang-orang memberikan kedudukan untuk posisi tertentu atau mempercayakan pembagian harta (zakat, infak dan yang sejenis) kepadanya. Ia mendapat keuntungan dari kepercayaan tersebut. Ini adalah jenis riya` yang dibenci oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa karena menjadikan ta’at kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa sebagai salah satu tangga menuju kema’siyatan kepada Nya.

Kedua : Tujuannya mendapatkan keuntungan duniawi semata, baik berupa harta ataupun wanita yang ingin dinikahinya. Seperti orang yang menampakkan ilmu dan ketaqwaannya karena ingin menikah atau mendapatkan uang. Ini juga riya` yang dicela, karena ia melakukan ketaatan karena mencari keuntungan duniawi, tetapi tingkatannya di bawah yang pertama.

Ketiga : Tidak bertujuan mendapatkan harta atau menikahi wanita, tetapi ia menampakkan ibadah karena takut dilihat kurang oleh orang, tidak dianggap orang-orang khusus dan zuhud serta dianggap seperti orang-orang pada umumnya.

PEMBAGIAN RIYA`

1. Riya` Jaliy (tampak jelas)

yaitu riya` yang menjadi pendorong untuk beramal meski dimaksudkan untuk mendapatkan pahala.

2. Riya` Khafiy (samar).

Riya` ini lebih ringan. Meski bukan motivasi untuk beramal tetapi membuat amalnya yang ditujukan karena Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa lemah. Seperti orang yang biasa melakukan tahajjud setiap malam dan itu ia jalani dengan berat, tetapi kalau ada tamu yang datang (menginap) ia tambah semangat dan ia jalani shalat tersebut dengan ringan. Tergolong dalam jenis riya` khafiy juga adalah orang yang menyembunyikan berbagai ketaatannya, tetapi jika orang-orang melinhatnya ia senang jika orang-orang menyambutnya dengan penuh ceria dan penghormatan, memujinya, bersemangat untuk membantu memenuhi keperluannya, tidak banyak menuntutnya dalam berjual beli dan memberinya tempat (dalam berbagai pertemuan) dan jika ada orang yang kurang memberikan haknya hatinya merasa keberatan.

Orang-orang yang ikhlas senantiasa takut terhadap riya` khafiy. Kesungguhannya untuk menyembunyikan berbagai ketaatannya lebih besar daripada kesungguhan orang-orang menyembunyikan keburukan mereka. Semua itu ia lakukan karena mengharap agar seluruh amal shalehnya ikhlas, kemudian hanya Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa yang membalasnya pada hari kiamat karena keikhlasan mereka. Sebab mereka mengetahui bahwa pada hari kiamat nanti tidak akan diterima (amalan) kecuali dari orang yang ikhlas dan mereka menyadari bahwa pada saat itu mereka sangat membutuhkannya.

OBAT RIYA` DAN CARA MEMBERSIHKAN HATI DARI RIYA`
Anda telah mengetahui bahwa riya` menghapuskan amal, sebab kemurkaan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan merupakan pembinasa yang paling besar. Kalau memang begini sifatnya maka sudah sepantasnya untuk secara sungguh-sungguh menghilangkannya. Ada beberapa tingkatan untuk mengatasinya.

Pertama : Memotong akar dan asal usulnya yaitu senang dipuji, menghindari pahitnya dicela dan sangat tamak terhadap yang dimiliki manusia. Tiga hal inilah yang menggerakan orang untuk riya`. Cara mengatasinya : Menyadari bahaya riya` dan akibat yang ditimbulkannya dengan tidak didapatkannya hati yang baik (bersih), terhalang mendapatkan taufiq di dunia, tidak mendapatkan kedudukan di sisi Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa di akhirat nanti, balasan yang akan diterima berupa siksaan, kemurkaan yang dahsyat dan kehinaan yang tampak. Bagaimanapun, jika seorang hamba memikirkan kehinaan tersebut, kemudian membandingkan apa yang didapatkannya dari menampakkan keindahan (perkataan, amal dll) dihadapan manusia di dunia dengan apa yang tidak bisa ia raih di akhirat dan pahala yang terhapus, ia akan dengan mudah menghilangkan keinginan tersebut. Seperti orang yang mengetahui bahwa madu itu enak tetapi kalau ternyata di dalamnya ada racun yang akan berakibat buruk baginya, ia akan tinggalkan madu tersebut.

Kedua : Menghilangkan berbagai (bisikan) yang sempat mengganggunya ketika melakukan ibadah. Ini juga perlu dipelajari. Orang yang berjuang memerangi (penyakit) jiwanya dengan memotong akar-akar riya`, menghilangkan rasa tamak dan menganggap hina pujian dan celaan orang, kadang-kadang syetan tidak membiarkannya pada saat menjalankan ibadah, tetapi membisikkan riya`. Jika terbetik dalam benaknya bahwaorang-orang sedang melihatnya, melawannya dengan mengatakan pada dirinya : Apa urasanmu dengan orang-orang itu, merek tahu atau tidak, Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa mengetahui keadaanmu. Apa faidahnya orang mengetahui (amal kita) ? Jika keinginan untuk mendapatkan pujian sedang bergejolak, ingat dengan penyakit riya` yang ada dalam hatinya yang menyebabkannya mendapatkan murka dari Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan kerugian ukhrawi lainnya.

SALAH, JIKA ORANG MENINGGALKAN KETAATAN KARENA TAKUT RIYA`
Ada orang yang meninggalkan amal karena takut riya`. Ini satu sikap salah, cocok dengan keinginan syetan untuk mengajak manusia malas (beramal) dan meninggalkan kebaikan. Selama motivasi untuk beramalnya sudah benar dan sesuai dengan tuntunansyari’at yang lurus, maka jangan meninggalkan amal karena ada bisikan riya`, tetapi ia wajib berusaha mengatasi bisikan riya`, menanamkan dalam dirinya malu terhadap Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa dan mengganti pujian manusia dengan pujian Nya.

Fudhail bin Iyadl berkata : “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya` dan ikhlas adalah Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa selamatkan anda dari keduanya.”

Ada orang alim lain yang berkata : “Barang siapa yang meninggalkan amal karena takut ikhlas maka ia telah meninggalkan ikhlas dan amal.

(Diterjemahkan dari buku Al Bahrur Roo-iq fiz Zuhdi War Roqoo-iq karya DR Ahmad Farid. Penerbit Muassasah al Kutub ats Tsaqofiyah, cetakan pertama, hal 117-120)


DOA AGAR TERHINDAR DARI RIYA'

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, agar tidak menyekutukan-Mu, sedang aku mengetahuinya dan aku minta ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui.”

Jangan Berhenti Berharap


Ada 4 lilin yang menyala,
Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah
percakapan mereka

Yang pertama berkata: “Aku adalah keindahan.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.

Yang kedua berkata: “Aku adalah Kasih Sayang.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mahu mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Selesai sahaja lilin itu berbicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara:”Aku adalah Cinta” “Tak mampu lagi aku untuk terus menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya. “ Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan
melihat ketiga Lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh
apa yang terjadi?? Kalian harus terus menyala, Aku
takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:
Akulah H A R A P A N “
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin
Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin
lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah H A R A P A N.
yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita
semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak
tersebut, yang dalam situasi apapun mampu
menghidupkan kembali Keindahan, Kasih Sayang
dan Cinta dengan HARAPAN-Nya…
Note :
Harapanlah yang membuat orang untuk lebih baik lagi, dimasa sekarang dan masa yang akan datang. Jadi jangan padamkan semangat dan harapanmu untuk hidup yang lebih baik…

Kata Al-Imam Ghazali r.a.

Dalam Al-Ihya menulis: Dalam diri manusia terdapat 4 sifat:

1. sabiyah (kebuasan)
2. bahimiyah (kebinatangan)
3. Syaithaniyah (kesyaitanan)
4. Rabbaniyah (ketuhanan)

Jika sifat rabbaniyahnya berhasil mengalahkan dan mengendalikan ketiga sifat yang lain, maka akan timbul sifat-sifat yang baik seperti:

* menjaga kehormatan diri (iffah)
* cukup dengan apa yang ada (qanaah)
* tenang
* zuhud
* wara’
* takwa
* malu
* jujur
* berani
* dermawan
* sabar
* suka menolong
* tahan menderita
* suka memaafkan
* teguh pendirian
* mulia
* pandai
* selalu ceria (senyum)

dan sebagainya.

Luasnya Neraka

YA ALLAH YA RAHMAN YA RAHIM, lindunglilah dan peliharakanlah kami,kedua ibubapa kami, isteri kami, anak-anak kami, kaum keluarga kami &semua orang Islam dari azab seksa api nerakaMu YA ALLAH.

Sesungguhnya kami tidak layak untuk menduduki syurgaMu YA ALLAH,namun tidak pula kami sanggup untuk ke nerakaMu YA ALLAH.
Ampunilah dosa-dosa kami, terimalah taubat kami dan terimalahsegala ibadah dan amalan kami dengan RAHMATMU YA ALLAH......AMIN.....

.: Luasnya Neraka :.

Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibrail datangkepada Nabi saw pada waktu yg ia tidak biasa datang dalam keadaanberubah mukanya, maka ditanya oleh nabi s.a.w.: "Mengapa aku melihat kau berubah muka?"

Jawabnya: "Ya Muhammad, akudatang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orangyg mengetahui bahawa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itubenar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasaaman dari padanya."

Lalu nabi s.a.w. bersabda: "Ya Jibrail, jelaskan padaku sifatJahannam."

Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakanselama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahunsehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitamgelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutusengkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum nescaya akan dapat membakarpenduduk dunia semuanya kerana panasnya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahlineraka itu digantung di antara langit dan bumi nescaya akan matipenduduk bumi kerana panas dan basinya. Demi Allah yg mengutus engkaudengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalamAl-Quran itu diletakkan di atas bukit, nescaya akan cair sampai ke bawahbumi yg ke tujuh. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang dihujung barat tersiksa, nescaya akan terbakar orang-orang yang di hujungtimur kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi,dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potonganapi. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bahagiannyayang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan."

Nabi s.a.w. bertanya: "Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pinturumah kami?"

Jawabnya: "Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya dibawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun,tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda." (nota kefahaman:iaitu yg lebih bawah lebih panas)

Tanya Rasulullah s.a.w.: "Siapakah penduduk masing-masing pintu?"

Jawab Jibrail: "Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang ygkafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga Fir'aun sedang namanya Al-Hawiyah.
Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim,
Pintu ketiga tempat orang shobi'in bernama Saqar.
Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusibernama Ladha,
Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah.
Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa'eir."

Kemudian Jibrail diam segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya: "Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?"

Jawabnya: "Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat." Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu,sehingga Jibrail meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sedar kembali dan sesudah sedar

nabi saw bersabda: "Ya Jibrail, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat kuyang akan masuk ke dalam neraka?" Jawabnya: "Ya, iaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu."

Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibrail juga menangis, kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyangkemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah. (dipetik dari kitab "PeringatanBagi Yg Lalai")

Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiatsedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku. Tahukah kamu bahawa neraka jahanamKu itu:

1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat
2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah
3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah
5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik
6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak
7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum
8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular
9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan racun yang hitam pekat.
10. Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai
11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat

Mudah-mudahan dapat menimbulkan keinsafan kepada kitasemua. Wallahua'lam.

Al-Quran Surah Al- Baqarah Ayat 159 Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk hidayat, sesudah Kamiterangkannya kepada manusia di dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk.

Kenikmatan Hidup Bermula Dengan Ibadah

Tajdid Iman:
Oleh Dr Juanda Jaya


BERIBADAHLAH ke jalan Allah untuk mencari ketenangan jiwa dan tanda kita mensyukuri nikmat pemberian-Nya. Manusia bersedih, putus asa apabila ditarik nikmat, namun ia dugaan memperkukuh iman

NAFSU
manusia tidak mungkin berhenti pada satu noktah kepuasan dalam mencari kesenangan. Setelah menikmati nafsu yang pertama, dia memburu nafsu kedua lalu yang ketiga dan seterusnya tanpa henti melainkan dengan izin Allah SWT.

Apabila dia tidak dapat mencapai hasrat nafsunya, dia pun bersedih dan putus asa, menangis dan meratapi kenikmatan yang hilang padahal Allah SWT menahan nikmat itu bukan kerana Allah bakhil tetapi Allah amat menaruh belas kasihan kepadanya.

Supaya dia tidaklah dilalaikan dengan nafsu kerana nikmat yang dicurah selama ini, nyata membuat hatinya keras dan semakin terseleweng dari jalan Allah. Dunia yang dilihat semata-mata nikmat padahal mengandungi ujian berat bagi mereka yang sedar.

Allah SWT berfirman yang bermaksud:

“Dan janganlah kamu tujukan kedua mata mu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami uji mereka dengannya dan kurnia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Surah Taha ayat: 131).

Setelah memahami hakikat bahawa diri kita tidak pernah puas dengan apa yang dikejar, akhirnya kesedaran itu lahir daripada jasad yang telah lelah, hati yang gelisah dan jiwa yang terdera oleh kesibukan mencari nikmat. Seseorang tidak akan sampai kepada ketenangan jiwa melainkan dirinya berada pada suasana ibadat sepanjang masa. Seluruh perbuatannya dilakukan kerana Allah, bersama Allah dan untuk Allah ketika mencari nafkah, bergaul dengan manusia bahkan dalam perkara mubah sekalipun hendaknya kehadiran Allah sentiasa dirasai.

Orang mukmin juga mempunyai hawa nafsu, dia tidak pernah terlepas daripada pergolakan nafsunya. Kadang-kadang dia menang dan ada kalanya dia kecundang, begitulah sifat manusia yang memang lemah dan amat memerlukan petunjuk dari-Nya. Jika Allah SWT mengasihi orang mukmin maka Dia menunjukkan jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Dibukakan aibnya sedikit untuk sekadar ingatan dan diujinya dengan musibah sebagai peringatan. Kemudian dituntun hati orang yang dikasihi-Nya ke lembah hijau tempat ranumnya iman, demi mengubati kegelisahannya itu dicurahkanlah mata air jernih ilmu dan makrifat, ditolong supaya hamba-Nya itu bangkit mengabdikan diri kepada-Nya. Begitulah rahmat Allah SWT kepada orang mukmin.

Adakalanya setiap mukmin merasai kerasnya hati, malas beribadah dan longgarnya rasa pengawasan Allah ke atas dirinya. Semua itu pasti dirasai sesiapa yang bermujahadah di jalan Allah. Sepatutnya kita bersyukur kerana cepat mengenal diri saat terlangar larangan Allah atau terlupa suruhan-Nya. Kenal dengan sifat-sifat dosa dan maksiat yang mencemari hati. Kemudian berusaha mengganti kelalaian itu dengan semangat ibadah dalam kehidupan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah perbuatan buruk itu dengan kebaikan sesungguhnya kebaikan akan menghapus keburukan dan bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik.” (Hadis Hasan Riwayat Al-Tirmizi).

Semangat ibadah sentiasa timbul dan tenggelam di jiwa mukmin, untuk memastikan seorang mukmin tetap istiqamah perlu dihadirkan suntikan motivasi yang mencergaskan jiwanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

* Ibadah tanda mensyukuri nikmat.

Kita sering melipatgandakan ibadah pada masa tertentu kononnya Allah memberi rezeki yang banyak atau kejayaan dalam bidang diceburi, maka kita amat bersungguh-sungguh mengingati jasa Allah. Menjemput saudara mara ke doa selamat, membaca Yasin, sembahyang berjemaah, memberi makan anak yatim dan bersedekah. Malangnya ada manusia apabila tidak menerima nikmat daripada Allah, mereka hilang semangat beribadah.

Padahal nikmat Allah tidak semestinya berupa harta benda, kejayaan dan kecemerlangan hidup bahkan nikmat yang paling bernilai adalah dijauhkan kita daripada musibah yang menimpa kita, anak-anak dan keluarga. Jika setiap hari kita mendengar berita jenayah, tidakkah kita bersyukur kepada Allah kerana terhindar daripada musibah dengan perlindungan-Nya?

Orang yang memahami hakikat bersyukur akan menemui di dasar hatinya bahawa tiada nikmat yang lebih besar selain menjadi orang mukmin yang diredai Allah SWT. Kerana itulah kita bersujud dan menuai amal salih setiap masa kerana jasa baik Allah ke atas kita.

Rasulullah SAW bersabda ketika bersembahyang tahajjud di bilik Aisyah walaupun kaki baginda sakit, baginda bersabda: “Afala uhibbu an akuuna abdan syakuran?”(Hadis riwayat Imam Al-Bukhari Muslim)

* Ibadah tanda percaya janji Allah.

Kitab-kitab yang menerangkan fadhilat ibadah wajib dan sunat sudah banyak diringkaskan daripada kumpulan hadis-hadis Nabi yang sahih, doa-doa Nabi yang maktsur juga menjadi keutamaan kerana ganjaran yang dikhabarkan. Ia diharapkan menjadi berita gembira yang didahulukan khabarnya di dunia, tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya dan Maha benar Allah atas segala janji-janji-Nya. Apabila hati keras dan jiwa menjadi malas, ubatilah ia dengan bacaan Al-Quran dan hadis sahih yang mengandungi unsur pujukan dan motivasi untuk mempertingkatkan iman dan amal kita di sisi Allah.

* Ibadah tanda mengutamakan Allah.

Apapun kesibukan yang membelenggu orang mukmin, hatinya tetap milik Allah. Tiada yang lebih penting daripada menjaga apa-apa yang diwajibkan-Nya dan juga amalan yang sunat. Apabila waktu berhibur dan bermain berlebihan berbanding waktu beribadah dan bekerja hendaklah disoal hati yang lalai itu mengenai siapakah sepatutnya yang lebih diutamakan?

- Penulis ialah Mufti Perlis, kini menjadi tamu pusat kajian Islam di Universiti Oxford, United Kingdom

Jiwa Mati Jika Kering Ilmu Agama

Tajdid Iman:
Bersama Dr Juanda Jaya


Hawa nafsu suka kebodohan, kemalasan jauhkan seseorang daripada Islam
APABILA Allah menghendaki kebaikan pada diri manusia, maka Dia akan menitiskan ke dalam hati mereka satu semangat cintakan ilmu-Nya. Dengan ilmu itu manusia mengerti mengenai dirinya, baik kelebihan, mahupun kelemahannya. Ilmu juga menunjukkannya jalan yang benar dan menasihati hati untuk tidak mengambil jalan salah.

Al-Imam Ibnu al-Jauzi menulis mengenai keutamaan ilmu dalam kitab Shaydul Khatir: “Ilmu sudah membawa diriku menuju pengetahuan mengenai Sang Pencipta dan ilmu menyuruhku untuk berbakti kepada-Nya. Maka aku pun tunduk di hadapan kekuasaan-Nya seraya melihat sifat-Nya. Hatiku juga berasa getaran kebesaran-Nya sehingga aku tertunduk malu kerana cinta kepada-Nya. Ilmu juga yang menggerakkan aku untuk sentiasa berada dekat ke riba-Nya dan menolong aku mencapai ketinggian ubudiyah kepada-Nya. Aku hanyut dalam kebesaran-Nya setiap kali mengingati-Nya dalam zikirku. Saat menyendiri adalah saat ibadahku untuk-Nya. Apabila terdetik hatiku mahu meninggalkan ilmu, ia berkata: Apakah kamu mahu berpaling dariku, padahal akulah yang menjadi petunjuk jalanmu sehingga kamu mengenal Allah? Aku pun menjawab: Sesungguhnya engkaulah penunjuk jalan, tetapi aku sudah sampai ke destinasi, masihkah aku memerlukan petunjuk jalan? Ilmu berkata lagi kepadaku: Oh, tidak! Setiap kali bekalmu bertambah, akan bertambah pula pengetahuanmu mengenai Kekasihmu dan kamu semakin faham bagaimana cara mendekati-Nya. Esok kamu akan tahu sebenarnya hari ini kamu masih banyak menyimpan kekurangan. Tidakkah kamu mendengar firman-Nya kepada Nabi SAW: Katakanlah (Wahai Muhammad) Oh Tuhanku, tambahkanlah ilmuku.” (Surah Taha, ayat 14)

Jika hati sudah berpaling daripada ilmu, ia akan disibukkan yang selain daripada-Nya. Saat itu anda kehilangan kemanisan bermunajat kepada Allah, itulah azab yang paling dahsyat dalam kehidupan seorang hamba.

Ilmu mengenai Islam bukan milik pelajar yang mengambil aliran agama saja. Ilmu Islam bukan terbatas hak milik ustaz dan ustazah saja. Al-Quran diturunkan bukan untuk kalangan hamba yang belajar agama, sementara orang kebanyakan tidak berhak mempelajarinya.

Maka, yang duduk di masjid ialah hanya pesara, orang yang pernah berkaitan dengan sekolah agama atau pondok, anak dan cucu imam saja.

Ramai lagi yang belum bersedia belajar mengenai Islam, bahkan mungkin tidak tergerak pun mahu menghayati agama yang diwariskan dari zaman berzaman. Bagi mereka cukuplah kiranya agama Islam itu hanya mengucap syahadat dan setahun sekali berasakan hari raya.

Semudah itukah sebenarnya agama yang perlu difahami dan diamalkan?

Hakikatnya, perkara yang menjauhkan seseorang daripada Islam ialah hawa nafsunya yang suka kepada kebodohan dan kemalasan, diperhamba oleh syahwatnya sendiri, condong kepada kejahatan dan termakan pujuk rayu syaitan. Hingga suatu masa, Allah membersihkan diri mereka daripada palitan kebusukan hawa nafsu yang menjijikkan itu.

Firman Allah yang bermaksud: “Wahai orang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah syaitan. Barang siapa yang mengikuti langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar, sekiranya tidaklah kerana kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, nescaya tidak seorangpun daripada kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surah al-Nuur, ayat 21)

Ayat itu menegaskan cara Allah menyelamatkan manusia daripada kejahatan diri sendiri, iaitu Allah membersihkan mereka dengan kurnia-Nya yang berupa hidayah dan ilmu, ditambah lagi dengan turunnya rahmat supaya manusia tidak tenggelam di lautan kekejian dan kemungkaran.

Hidup tanpa ilmu Islam umpama badan tanpa roh. Tegasnya, jiwa manusia boleh mati disebabkan kekeringan ilmu agama. Akhirnya yang berjalan itu hanyalah makhluk manusia tanpa perasaan, hati dan arah tuju yang jelas.

Mahu ke mana dia melangkah? Di mana tempat berhenti dan destinasi yang terakhir? Langkah sekadar mengikuti kelazatan syahwatnya sendiri. Maka, ramai mengadu tidak pernah berasakan kepuasan, walaupun sudah berada di puncak kejayaan dalam kariernya, tetapi pada masa sama ramai tidak peduli naluri mereka yang sebenarnya haus akan sentuhan hidayah Allah.

Naluri manusia perlukan Allah. Mereka tidak mungkin mencapai-Nya melainkan dengan ilmu Islam. Tetapi sayang, ramai yang menunda masa untuk belajar. Tunggu pergi haji atau pencen nanti, nak Islam jika perlu untuk uruskan orang mati, kenduri tahlil, majlis makan dan doa selamat.

Islam seolah-olah hanya suatu simbol untuk sekadar membaca doa pada majlis keramaian, balik rumah nanti masing-masing dengan perangainya yang bercanggah nilai Islam. Islam itu ilmu, memeluk Islam bererti meletakkan komitmen belajar melebihi komitmen yang lain.

Sahabat Baginda SAW terdiri daripada pelbagai golongan, mereka bekerja sebagai peniaga dan petani yang berjaya. Islam sudah membuktikan semakin mereka mencintai ilmu, beriman dan berjuang untuk Islam semakin terbuka lebar pintu dunia boleh ditakluki.

Kurang daripada 50 tahun selepas kewafatan Rasulullah SAW, Islam sampai di Afrika Utara hingga Asia. Siapa kata orang yang berpegang kepada agama tidak boleh memimpin dunia?

Tetapi, kini generasi baru ada yang percaya konsep jika mahu berjaya pisahkan diri daripada Islam. Jangan campurkan urusan dunia dengan Islam. Akibatnya ilmu agama kehilangan peminatnya dan agama tidak dijadikan pegangan hidup. Ia hanya sekadar simbol rasmi milik masyarakat turun temurun.

Akhirnya yang lahir adalah generasi buta agama, tidak mesra al-Quran, alahan apabila mendengar hadis dibaca. Yang paling teruk ialah menaruh rasa curiga dan permusuhan apabila ada seseorang yang mahu menegakkan Islam. Mereka percaya, Islam menghalang kemajuan.

Puncanya kerana dari kecil hingga dewasa hatinya tidak tersentuh dengan ilmu Islam. Mereka hanya belajar bagaimana menguasai dunia, tetapi tidak tahu bagaimana menundukkan jiwa, mereka belajar memakmurkan bumi, tetapi jahil mengenai Tuhan yang Maha Menguasai langit dan bumi. Mereka tidak kenal agama melainkan kulitnya saja, bahkan condong kepada fahaman buatan manusia.

Prof Dr Hamka pernah mengingatkan pemuda yang dipengaruhi fahaman dari luar Islam pada zaman komunis bermaharajalela di Indonesia suatu ketika dulu. Hamka berkata: “Ramai pemuda sekarang ini yang bangga dengan fahaman liberalis, kapitalis, sosialis, marxis, nasionalis, materialis. Akhirnya apabila sudah kena jangkitan siflis (penyakit kelamin), kaki berjalan mengangkang dan menangis barulah balik kepada agama.”

Fahaman dan buah fikiran boleh dicipta, tetapi jangan sampai menentang agama dan wahyu. Ramai orang yang disesatkan oleh ilmunya kerana berpaling daripada ilmu Allah.

- Penulis ialah pendakwah dari Sarawak dan boleh dihubungi melalui juanda@kutpm.edu.my

Pentas Dunia

Dunia adalah pentas bagi manusia merasakan diri mereka sebagai pelakon dan sebagai sutradara. Dunia adalah tempat kita singgah sebentar sambil melepaskan penat sebelum kita sampai ketempat yang kekal abadi.

Jika kita boleh dianggap sebagai pelakon, berlakonlah dengan lakonan yang baik sehingga kita boleh mendapat anugerah tertinggi hasil dari lakonan kita. Apa yang kita harapkan adalah anugerah tertinggi dari Allah s.w.t.

Banyak lakonan yang dapat kita lakonkan jika kita mengharapkan anugerah dari Allah diantaranya:

Lakukan diri untuk kebaikan / Jauhkan diri dari kemungkaran

"Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk (faedah) manusia, Kamu mengajak kepada kebajikan dan kamu mencegah daripada kemungkaran serta kamu beriman kepada Allah.dan Rasul...."

Barangsiapa mendatangi 'arraaf' (tukang ramal) kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari." (HR.Muslim).

'Barangsiapa yang mendatangi kahin (dukun)) dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Abu Daud).

"Barang siapa daripada kamu yang melihat kemungkaran maka hendaklah dia mengubah dengan tangannya (kekuasaan), apabila ia tidak berkuasa (dengan tangan) maka dengan lidahnya (teguran atau nasihat), apabila tidak kuasa (dengan lidahnya) maka dengan hatinya dan yang demikian adalah selemah-lemah iman." (Riwayat Muslim).

Jauhkan diri dari mengumpat / mencela

Sikap suka mengumpat atau menceritakan keburukan dan kelemahan orang lain dilaknat oleh Allah.

Mereka yang bersikap demikian, secara disedari atau tidak mencela dan mengaibkan orang lain yang hukumnya berdosa besar.

Ketika berbual, sama ada secara sengaja atau tidak, mereka menceritakan keburukan ketuanya, jiran, saudara mara dan orang yang lalu di hadapan mereka.

Firman Allah bermaksud: "Hai orang yang beriman, kalau datang kepada kamu orang jahat membawa berita, periksalah dengan saksama supaya kamu jangan sampai mencelakakan suatu kaum yang tidak diketahui, kemudian kamu menyesal di atas perbuatanmu itu." (Surah al-Hujurat, ayat 6)

Jauhkan diri dari melakukan zina dan maksiat

Menjauhkan diri daripada majlis-majlis yang berunsur maksiat dan mungkar. Semasa isteri sedang mengandung, ia merupakan waktu yang amat sensitif bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Oleh itu, suami isteri hendaklah menjauhi tempat-tempat maksiat seperti pesta-pesta hiburan, kelab malam, tempat perjudian, funfair, konsert-konsert yang bertentangan dengan Islam dan sebagainya.

Sabda Rasulullah s.a.w. :


Maksudnya : “Telah ditulis ke atas anak Adam itu bahagiannya daripada zina yang tidak mustahil berlaku ke atasnya iaitu :

Zina kedua biji mata ialah memandang benda-benda yang haram.

Zina kedua telinga ialah mendengar benda-benda yang haram.

Zina lidah ialah berkata-kata kalimah yang tidak baik.

Zina tangan ialah melakukan kezaliman.

Zina kaki ialah melangkah ke tempat maksiat

Zina hati ialah keinginan yang melampau dan banyak angan-angan.

Kemuncak zina ialah melakukan perbuatan zina dengan kemaluan yang dihukumkan had zina ke atasnya”

Jalan kita semakin singkat, bila-bila masa kita akan berpindah setelah penat kita berlakon, melepas kepenatan yang terasa dengan segala amalan-amalan yang sengaja dan tidak sengaja kita lakukan tanpa disedar kita tetap bergelumang dengan dosa-dosa baik yang nyata atau yang tersembunyi.

Jauhkan diri dari dosa

Siapa di antara kita yang kuat menahan malu, andai kita tahu daftar kesalahan, kedurhakaan, kemaksiatan, pelanggaran yg telah kita lakukan? Siapa di antara kita yg mampu menahan rasa hina tiada tara, jika kita mengetahui catatan prilaku buruk yg sudah kita lakukan? Hidup yg telah kita lalui singkat. Tapi siapa yg kuat menahan penyesalan akibat keburukan dan dosa yang kerap kita lakukan berulang-ulang? Dari itu bersihkan diri kita dan persiapkan diri kita dan pakaian kita sebelum kita pulang bertemu dengan Pencipta kita buat selama-lamanya. Dengan perbanyak beristighfar dan memperbaharui taubat…………..

Beristighfar, dan bertaubat

Dari itu marilah perbanyakan istighfar dan memohon keampunan daripada Allah SWT. Rasulullah menggambarkan, sebuah dosa seperti noda hitam di dalam hati. Kian banyak noda hitam dalam hati, maka hati boleh menjadi hitam legam, kelam. Sinarnya bukan hanya redup, tapi gelap. Cahayanya tertutup oleh titik-titik noda yang menjadikannya tak mampu lagi memandang dan menimbang kebenaran. "Bila seseorang melepaskan diri dari dosa, beristighfar dan bertaubat, hatinya akan cemerlang seperti semula. Tapi bila ia mengulangi perbuatan dosa maka noda hitam itu akan bertambah hingga meliputi hatinya. Allah SWT berfirman, "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka *(HR. Tirmidzi).

Demikianlah. Kemaksiatan dan dosa, ternyata boleh saja menjadi pintu kebaikan bagi pelakunya. Syaratnya harus satu, yakni perbaharui taubat. Pintu kebaikan ada dimana saja. Termasuk di hadapan pelaku kemaksiatan. Jangan mencela berlebihan perilaku maksiat yang dilakukan orang lain. Karena mungkin saja di lain kemaksiatan itu ternyata melecut pelakunya untuk melakukan keshalihan yang boleh jadi kita sama sekali tidak mampu melakukannya.

Tinggalkan kemaksiatan, sekali dosa, perbaharui taubat, jangan biarkan diri hanyut dalam nikmatnya ayunan kesalahan. Ingat, jika kita ikhlas, Allah pasti

akan menggantikan kenikmatan dosa yang kita tinggalkan dengan sesuatu yang jauh lebih indah dan nikmat sejak di dunia, terlebih di akhirat. Dengarkanlah perkataan yang diucapkan Ibnu Sirin, seorang tokoh ulama` di zaman Tabi`in yang terkenal memiliki kepekaan spiritual di zamannya. Ia mengatakan, "Tidak ada seorangpun yang meninggalkan suatu keburukan yang ia rasakan nikmat, hanya karena Allah, kecuali pasti ia akan menemukan gantinya dari Allah.."

Atau perhatikanlah sabda Rasulullah SAW, "Barangsiapa yang memalingkan pandangan dari sesuatu yang haram, maka Allah akan berikan satu titik cahaya dalam hatinya.."