Saturday, July 31, 2010

ORANG-ORANG YANG PERTAMA DALAM SEJARAH.



1. Orang yang pertama menulis Bismillah : Nabi Sulaiman AS.

2. Orang yang pertama minum air zamzam : Nabi Ismail AS

3. Orang yang pertama berkhatan : Nabi Ibrahim AS.

4. Orang yang pertama diberikan pakaian pada hari qiamat : Nabi IbrahimAS

5. Orang yang pertama dipanggil oleh Allah pada hari qiamat : Nabi Adam AS

6. Orang yang pertama mengerjakan saie antara Safa dan Marwah : Sayyidatina Hajar (Ibu Nabi Ismail AS

7. Orang yang pertama dibangkitkan pada hari qiamat : Nabi Muhammad SAW.

8. Orang yang pertama menjadi khalifah Islam : Abu Bakar AsSiddiq RA.

9. Orang yang pertama menggunakan tarikh hijrah: Umar bin Al-Khattab RA

10. Orang yang pertama meletakkah jawatan khalifah dalam Islam: Al-Hasan bin Ali RA

11. Orang yang pertama menyusukan Nbi SAW: Thuwaibah RA

12. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan lelaki : Al-Harith bin Abi Halah RA

13. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan wanita: Sumayyah binti Khabbat RA

14. yang pertama menulis hadis di dalam kitab / lembaran : Abdullah bin Amru bin Al-Ash RA

15. Orang yang pertama memanah dalam perjuangan fisabilillah : Saad bin Abi Waqqas RA

16. Orang yang pertama menjadi muazzin dan melaungkan azan: Bilal bin Rabah RA

17. Orang yang pertama bersembahyang dengan Rasulullah SAW : Ali bin Abi Tholib RA

18. Orang yang pertama membuat minbar masjid Nabi SAW: Tamim Ad-dary RA.

19. Orang yang pertama menghunuskan pedang dalam perjuangan fisabilillah : Az-Zubair bin Al-Awwam RA

20. Orang yang pertama menulis sirah Nabi SAW: Ibban bin Othman bin Affan RA

21. Orang yang pertama beriman dengan Nabi SAW : Khadijah binti Khuwailid RA

22. Orang yang pertama mengasaskan usul fiqh : Imam Syafei RH.

23. Orang yang pertama membina penjara dalam Islam: Ali bin Abi Tholib RA

24. Orang yang pertama menjadi raja dalam Islam : Muawayah bin Abi Sufyan RA

25. Orang yang pertama membuat perpustakaan awam : Harun Ar-Rasyid RH

26. Orang yang pertama mengadakan baitul mal : Umar Al-Khattab RA

27. Orang yang pertama menghafal Al-Quran selepas Rasulullah SAW: Ali bn Abi Tholib RA

28. Orang yang pertama membina menara di Masjidil Haram Mekah : Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur RH.

9. Orang yang pertama digelar Al-Muqry : Mus’ab bin Umair RA.

30. Orang yang pertama masuk ke dalam syurga : Nabi Muhammad SAW.

Penulis: Khairul Azmi Ismail Al-Muqry

Friday, July 30, 2010

SOLAT BAIK UNTUK OTAK


Shalat merupakan kewajiban bagi umat Islam, sebagai pelaksanaan rukun Islam kedua, ibadah ini juga yang membedakan ritual Islam dengan agama-agama lainnya, keharusan shalat diperintahkan melalui firman Allah : “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaahaa, 20:14).

Shalat berarti kita sedang menghadap dan berkomunikasi serta mengingat Allah, yang dipertegas dengan ucapan “shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata hanya untuk Allah semata”. Hal ini berarti setelah shalat seharusnya tidak melakukan perbuatan yang melanggar sunatullah, karena kita selalu ingat bahwa Allah senantiasa Maha Menyaksikan dan Maha Menatap apa yang kita kerjakan. Jika sebaliknya yang terjadi berarti ada yang tidak beres pada shalatnya.

Sebuat riset ilmiah yang dilakukan oleh seorang Doktor Neurologi di AS terhadap otak manusia telah meng-antarkannya kepada pemelukan agama Islam. Keajaiban itu ditemui olehnya sewaktu melakukan kajian otak, dimana dijumpai bahwa dalam otak manusia terdapat urat saraf yang tidak dimasuki oleh darah, padahal logika umum mengatakan bahwa setiap inchi otak manusia memerlukan darah yang cukup agar berfungsi secara normal.

Setelah melakukan kajian yang memakan waktu lama, akhirnya ia menyimpulkan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf otak melainkan jika orang tersebut shalat, yakni ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Artinya darah akan memasuki bagian urat otak tersebut mengikuti kadar shalat 5 waktu yang di wajibkan oleh Islam.

Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan shalat, maka otak tidak akan menerima darah yang cukup agar berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut Islam "sepenuhnya", karena sifat fitrah kejadiannya yang memang telah digariskan Allah dengan agamanya yang indah. Sehingga makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak shalat, walaupun akal mereka tampak normal, namun sebenarnya dalam suatu kondisi tertentu, sebenarnya kehilangan pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal.

Jadi, tidak heranlah jika timbul beragam gejala sosial di masyarakat saat ini, karena manusia terkadang tidak segan-segan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrahnya, yang disebabkan oleh tidak bekerjanya otak secara normal, dan belum khusyuknya shalat yang dilakukan, padahal dalam Surat Al ‘Ankabuut (QS., 29:45), disebutkan, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.

Dan sesungguh-nya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Semoga shalat kita dapat menjaga kesadaran ikhsan, kesadaran yang menghidupkan hati dan pikiran bahwa Allah SWT akan senantiasa melihat apapun yang kita lakukan, dan kita terjaga untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan munkar. Amin.

Wednesday, July 21, 2010

BERUNTUNGLAH KAUM WANIITA YANG MENELADANI SEORANG SHOHABIYAH YANG LUAR BIASA, SIAPA KAH DIA?



Dialah –SUMAYYAH BINTI KHABBAT- isteri dan anak dari Yasir dan Ammar bin Yasir
Dia merupakan orang ke tujuh yang masuk Islam dan merupakan tujuh orang pertama yang menampakkan keislamannya.

Dengan iman yang kuat dan keberaniannya Sumayyah menentang Abu Jahal. Bukan hanya dirinya, suami dan anaknya juga menjadi sasaran kekejaman Abu Jahal. Sumayyah, suami dan putranya diikat kaki dan tangannya lalu dilemparkan ke atas kerikil tajam dan panas. Di atas kerikil itulah mereka di cambuki satu persatu agar mereka kembali murtad. Kendati demikian, tidak terdengar dari mulut suami(yasir) dan anak nya(Ammar) kecuali hanya diam dan rintihan meskipun cambukan itu terus bertubi-tubi mendera mereka. Lain halnya dengan sang ibu(Sumayyah) yang berbalik menantang Abu Jahal--ditengah-tengah deraan cambuk-- Lantang dia menjawab bahwa usaha Abu Jahal akan sia-sia saja karena dia akan tetap mempertahankan keislamannya berapapun harganya, walau harus dengan nyawa.

Padahal Sumayyah sewaktu itu adalah wanita tua yang sangat renta dan lemah, tapi SUBHANALLAH Ia Sangat sabar,teguh dan tegar.

Kesabaran keluarga Yasir yang tiada tara tersebut memasukan mereka dalam daftar para penghuni surga. Hal ini dibenarkan oleh Nabi dengan sabdanya, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir! Bersabarlah! Sesungguhnya balasan kalian adalah surga.”

Mendengar tantangan Sumayyah tersebut, nyali Abu Jahal mengerut.Abu jahal tidak habis pikir, bagaimana seorang wanita tua yang lemah menantangnya dan menurunkan kharismanya? Tidak ada pilihan baginya selain membunuh Sumayyah.

Abu Jahal datang dengan tombak di tangan . Ia memaksa Sumyyah mengucapkan kata - kata kufur . Waktu itu Rasulullah Saw sempat mengutus seorang sahabat untuk menyampaikan berita kepada Sumyyah dan mengizinkannya untuk mengucapkan kalimat kufur asal hatinya tetap beriman.

Apa jawab Sumayyah ?

''Sampaikanlah salamku kepada Rasulullah Saw. Sesungguhnya Sumayyah yang telah Allah Subhanallahu Wa Ta'ala sucikan hatinya dengan keimanan, tak akan sanggup mengotori lidahnya dengan kata - kata kufur.''

Mendengar itu , Abu jahal gusar . Ia menusukkan tombaknya kerahim Sumayyah.
'' Ia mati karena kehabisan darah . Dan JADILAH SUMAYYAH ORANG YANG PERTAMA KALI SYAHID DALAM ISLAM.

SUBHANALLAH , SUBHANALLAH !!!
Sumayyah memilih ditusuk tombak ketimbang mencemari lidahnya dengan kalimat kufur. Periksalah lidah kita ; tidakkah kita dengan mudah mengobral makian , menyebarkan fitnah , dan menggunjing kejelekan orang lain , padahal padahal kejelekan kita sendiri bertumpuk-tumpuk.

Sungguh kita telah berlaku sebagaimana yang dikatakan sebuah pepatah ; "KUMAN DISEBRANG LAUTAN NAMPAK JELAS,GAJAH DIPELUPUK MATA TAK KELIHATAN"
Periksalah hati kita; tidakkah kita terus dan masih memelihara didalamnya penyakit dengki , iri hati, takabur , munafik , buruk sangka , serta penyakit - penyakit hati lainnya. ASTAGFIRULLAH...?

Saudari-saudariku yang tercinta

Kisah diatas merupakan pelajaran bagi setiap mukminah yang diinginkan oleh musuh-musuh allah swt untuk menanggalkan agamanya, hendaknya ia meneladani ketegaran, keteguhan dan kesabaran Sumaiyah.

Abu Athiyah berkata:

“Bersabarlah dalam kebenaran,engkau akan merasakan manisnya
Kesabaran demi kebenaran terkadang harus melalui kepedihan”.

Hal ini juga menunjukkan bahwa sabar itu tidaklah ada batasnya, sampai Allah mendatangkan keputusan dan ketetapan-Nya.

Setelah membaca dan meneladani kisah-kisah ummahatul mu'minin dan para shohabiyah yg sungguh luar biasa,

APAKAH PANTAS BAGI SEORANG WANITA :

- menjerumuskan dirinya kepada lembah kehancuran karena seorang lelaki yang belum halal baginya,(sengsara,terlena,nangis karena putus cinta n hilang perhatiannya,disakiti,memikirnyanya tiap detik dst)???
- Lebih senang bergosip ria bersama group yg teleh mereka bikin,shoping ke mall-mall,dan menghambur-hamburkan uang buat sesuatu yang kurang bermanfaat, dibandingkan sebagian muslimah yg belajar ngaji alqur'an menelaah dan mengamalkan nya???
- Bangga mengumbar aurat (MENANGGALKAN JILBAB) yang jelas-jelas wajib hukum nya ( Al Ahzab: 59 & An Nuur: 31) dan terdapat ancaman besar bagi pelakunya, tidak masuk surga bahkan mencium nya pun tidak???

Dan masih banyak lagi pertayaan-pertanyaan yang ditujukan kepada kaum wanita(sebagai intropeksi diri) dan jawabanya ada pada dirinya masing-masing.


Tapi yang ga kalah hebatnya sebagian mereka berani menjawab :
- Kita kan tidak hidup dizaman rasulullah saw.
- Kita kan bukan Nabi saw,bukan isteri Nabi dan bukan pula shohabiyah(sahabat rasul saw kalangan perempuan)
- Keimanan kita kan tidak seperti mereka.dst

Maka saya katakan :

KALAU BUKAN RASULULLAH SAW DAN SAHABAT_SAHABATNYA (GENERASI TERBAIK) SIAPA YANG KITA AKAN IKUTI ???

Akhwati yang berbahagia ,
Jadilah kalian Sumayyah-Sumayyah yang baru, tanpa malu menjalani syariat Allah dan Rasul-Nya. Tanpa gentar menghadapi setiap gelombang fitnah yang menguji kalian, sampai al yaqin(kematian) menghampiri kalian.Wallahu mustaan.


***********************************************************

Mohon kiranya untuk men-tag ataupun men-sharing artikel ini dengan orang yang Anda kasihi dan cintai karena allah, agar orang yg matanya masih merem, dapat membukanya lebar lebar ,orang yang terlena biar bangun kembali, orang yang patah semangat dapat bangkit dan meraih yang ia cita-citakan.
Dan akhirnya…Kita berharap dan berdoa agar kita termasuk golongan hamba-hamba Allah swt yang sholeh dan sholehah
Jazakallah khair


“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”( HR Muslim)

Apabila ada kebaikan dalam catatan ini, maka sebaiknya mari kita SEBARKAN untuk dibaca oleh orang yg kita cintai

“Orang yang menyeru (menyuruh/menasehatkan) kepada kebaikan akan memperoleh pahala seperti orang yang mengamalkan seruannya, tanpa mengurangi pahala orang yang mengamalkan sedikitpun. Sebaliknya, orang yang menyeru kejahatan akan mendapatkan dosa seperti orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi dosa orang yang mengamalkannya sedikitpun.” (HR. Muslim)



~ABU SALSABILA~

Tuesday, July 20, 2010

UJIAN DARI ALLAH



Abu Hurairah r.a. mendengar Rasulullah SAW bercerita bahwa dulu ada tiga orang di kalangan Bani Israil yang berkulit belang, berkepala botak, dan buta. Allah SWT hendak menguji mereka, maka Allah mengutus seorang malaikat untuk datang kepada orang yang belang, lalu bertanya kepadanya: "Apakah yang anda inginkan?" "Warna yang bagus dan kulit yang baik," jawab orang itu. "Sebab, kini aku telah dijauhi orang." Maka diusaplah badan orang itu oleh malaikat itu, sehingga dengan izin Allah hilanglah penyakit dan kulitnya berubah menjadi sangat bagus dengan warna yang indah. Lalu orang itu ditanya lagi, "Harta apakah yang engkau inginkan?", "Onta," jawabnya. Maka diberinya onta betina yg sedang bunting sambil didoakan semoga Allah SWT memberkahinya.

Setelah itu, malaikat mendatangi orang yang botak dan bertanya, "Apakah gerangan yang anda inginkan?". "Rambut yang bagus," jawabnya. "Dan hilangkan botakku ini, sebab orang selalu mengejekku." Lalu malaikat itu mengusap kepalanya dan dengan izin Allah rambutnya tumbuh kembali dengan cukup bagus. Orang itu kemudian ditanya, "Kini kekayaan apa yang anda inginkan?". "Sapi," jawabnya. Orang itu kemudian diberi sapi betina yang sedang bunting sambil didoakan semoga Allah SWT memberkatinya.

Dan terakhir, malaikat datang pada orang yang buta dan bertanya, "Apakah yang anda inginkan?" "Aku ingin sekiranya Allah mengembalikan penglihatan mataku, supaya aku dapat melihat segala sesuatu," jawabnya meminta. Maka diusaplah kedua matanya oleh malaikat itu, dan dengan izin Allah seketika itu pula ia dapat melihat kembali. kemudian malaikat bertanya lagi, "Sekarang harta kekayaan apa yang engkau inginkan?"."Kambing," jawabnya. Ia kemudian diberi kambing betina yang sedang bunting.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, serta tahun pun berganti tahun. Seiring itu pula hewan-hewan ternak ketiga orang itu bertambah banyak. Hingga akhirnya masing-masing telah memiliki satu lembah onta, satu lembah sapi, dan satu lembah kambing. Malaikat itu kemudian kembali datang pada orang yang dulunya belang. Kedatangannya kali ini sengaja menyamar seperti bentuk rupa orang itu ketika masih belang dulu. Setelah sampai di tempat orang itu, malaikat berkata, "Saya ini orang miskin yang tengah putus perjalanan dan kehilangan kontak. Maka tiada yang dapat menyampaikan aku pada tujuan, kecuali pertolongan Allah SWT kemudian bantuanmu. Aku mohon padamu, demi Allah yang memberimu warna dan kulit yang bagus serta kekayaan, agar memberiku satu onta untuk menyampaikan aku pada tujuanku bepergian ini."

Mendengar ucapan yang demikian, orang itu kemudian menjawab: "Hak-hak orang lain masih banyak." "Aku seperti kenal denganmu," sahut malaikat itu, "Tidakkah anda dulu belang, dibenci orang, lagi miskin, setelah itu anda diberi kekayaan oleh Allah?" "Sungguh aku mewarisi harta kekayaan ini dari orang tuaku," jawabnya membantah. "Jika anda berdusta, semoga Allah mengembalikan anda pada keadaan yang dulu," kata malaikat yang menyamar sebagai orang.

Setelah itu, malaikat itu datang pada orang yang dahulunya botak dengan menyamar menyerupai bentuknya ketika masih botak. Saat tiba di tempat orang itu, malaikat berkata padanya sebagaimana yang dikatakan oleh orang pertama. Ternyata jawabannya sama dengan orang belang tadi, sehingga malaikat mendoakan pula, "Jika engkau berdusta, semoga Allah mengembalikan engkau pada keadaanmu dahulu."
Terakhir, malaikat itu datang pada orang yang dulunya buta. Malaikat berkata, "Saya orang miskin yang dalam perjalanan telah putus hubungan. Maka aku takkan dapat sampai pada tujuanku kecuali dengan pertolongan Allah melalui perantaraan bantuanmu. Aku mohon demi Allah, Dia-lah yang telah mengembalikan penglihatanmu dan memberimu kekayaan, oleh karena itu berilah aku seekor kambing untuk bekal yang dapat mengantar aku sampai pada tujuanku."

"Benar," jawab orang itu, "Dahulu aku buta dan miskin, kemudian Allah mengembalikan penglihatanku, lalu Allah memberiku harta kekayaan. Karena itu, sekarang ambillah sesukamu. Demi Allah, aku takkan keberatan dengan sesuatu yang engkau ambil karena Allah." Maka malaikat pun berkata: "Tahanlah hartamu. Kamu sebenarnya sedang diuji oleh Allah. Maka Allah pun ridha padamu dan murka pada dua orang teman itu."

Dalam Surat Al Baqarah (QS. 2:155) Allah berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,”. Oleh karena itu, dapatlah dimengerti bahwa kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan lain sebagainya merupakan ujian dari Allah SWT.

Banyak orang yg berhasil melewati ujian ketika ia sakit, miskin, dsb. Namun, amatlah sedikit orang yg berhasil melewati ujian dalam keadaan sehat, kaya, dan sejahtera, naik pangkat dan kedudukan. Kecuali hamba-hamba Allah yg beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Friday, July 16, 2010

MEMPERHATIKAN ADAB BERPUASA

Oleh : Ustadz Muhammad bin Ahmad Assegaf

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنِ , وَ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ عَلَى اَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَ اْلمُرْسَلِيْنِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ اَجْمَعِْين اَمَّا بَعْدُ

Banyak hadits Rosulullah SAW yang menerangkan bahwa ALLAH SWT akan memberikan ampunan bagi hamba-hambanya yang berpuasa dan beribadah di bulan Ramadhan. Di antaranya beliau bersabda,

مَنْ ضَامَ رَمَضَانَ , وَ قَامه إمانًا وَ احتسبابًا , غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّمَ مَنْ دَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa dibulan Ramadhan dan berjaga di malam-malamnya dengan penuh kepercayaan dan keikhlasan, niscaya ALLAH akan mengampuni segala dosanya yang telah lalu.”

Tentunya ampunan serta curahan rahmat yang telah ALLAH janjikan, hanya akan diraih oleh orang-orang yang berpuasa dengan memperhatikan adab/tata tertib puasa yang telah dicontohkan oleh Baginda Nabi SAW.

Dalam hal ini, Al-Habib Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad dalam kitabnya النصائح الدينية menerangkan bahwa di antara tata tertib yang harus diperhatikan oleh orang yang berpuasa adalah memelihara lidah agar tidak berdusta, tidak mencaci orang, tidak mencampuri urusan orang lain, menjaga mata dan telinga dari melihat sesuatu yang tidak halal.

Selain itu, kita juga harus menjaga perut kita dari makanan yang haram, bahkan yang syubhat sekalipun. Sebagian para salaf berkata,

“Jika anda berbuka, maka perhatikanlah dengan apa anda berbuka dan di tempat siapa anda berbuka.”

Alhasil kita mesti menjaga seluruh anggota tubuh kita dari perbuatan dosa dan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak ada manfaatnya bagi diri kita.

Tentunya hal ini tidak hanya wajib di bulan Ramadhan saja, tetapi setiap saat kita harus menghindari perbuatan-perbuatan tersebut. Hanya saja di bulan ini lebih ditekankan, agar tujuan daripada diwajibkan puasa yaitu لعلكم تتقون (”agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa”) dapat kita capai.

Di antara yang disunahkan bagi orang yang berpuasa adalah menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.

لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ , مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ , وَ أَخَّرُوَا السَّحُوْرَ

“Umatku tetap berada dalam kebaikan,selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur.”

RAMADHAN BULAN KESABAAN

Oleh: Ustadz Muhammad bin Ahmad Assegaf

اَلْحَمْدُ ِلله الذي هذانا لهذا و مَاكُنَّ لنهتَدِي لَوْلاَ ان هذانا الله و الصلاة و لاسلام على سَيِّدِنَا رسولالله مُحَمَّدٍ بن عبدالله وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ وَالاَه . اَمَّا بَعْدُ

Ikhwani rahimakumulloh,

Dalam sebuah hadistnya, Rasulullah mengatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran:

هُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ , وَ الصَّبْرُ ثَوَابُهُ اْلجَنَّةَ

“Bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran dan ganjaran kesabaran adalah masuk surga.”

Sabar adalah inti ajaran Islam dan iman. Bersabar artinya mengendalikan dan memaksa nafsu untuk melaksanakan ketentuan syariat. Sabar adalah saudara dari syukur, karena syukur tidak akan sempurna tanpa kesabaran. Barangsiapa yang bersabar, maka ia telah bersyukur atas nikmat ALLAH yang dikaruniakan kepadanya. Jika kepentingan nafsu dan agama saling bertentangan kemudian kita mengutamakan kepentingan agama, maka berarti kita telah mewujudkan maqom (kedudukan) sabar.

Alhabib Ahmad bin Zen Alhabsyi di dalam kitabnya yang berjudul شَرْحُ العَينية menerangkan bahwa sabar ada beberapa macam. Yaitu sabar dalam menghindari maksiat dan mengendalikan syahwat, sabar dalam melakukan ketaatan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar untuk tidak berkeluh kesah kecuali kepada ALLAH. Karena berkeluh kepada ALLAH adalah terpuji. Al-Qur’an menceritakan bagaimana nabi Ayyub as mengeluh kepada ALLAH Ta’ala:

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“(Ya Tuhanku) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang diantara semua penyayang.” (Al-Anbiya’:83)

Kemudian ALLAH memujinya:

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا

“Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar.” (Shaad:44)

Kesabaran memiliki berbagai keutamaan dan manfaat. ALLAH berfirman dalam surat Az-Zumar:10

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan dibalas dengan pahala tanpa batas.”

Dalam Surat An-Nahl:96 ALLAH berfirman:

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan kami pasti akan memberikan balasan kepada mereka yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Rasulullah SAW bersabda:

هُوَ الصَّبْرُ وَ السَّمَاحَةُ

“Iman adalah kesabaran dan suka memaafkan.”

Al-Imamul Haddad mengatakan dalam salah satu syairnya:

وَ عَلَيْكَ بِالصَّبْرِ فَلاَ تَعْدِلُ بِهِ # شَيْئًا وَ بِالشُّكْرِ اْلأَتَمِّ اْلأَوْسَعِ

“Dan bersabarlah dan jangan mengartikannya dengan apapun dan bersyukurlah dalam arti luas dan sempurna.”

Ikhwani, bulan Ramadhan adalah waktu paling tepat untuk melatih kesabaran karena di bulan ini kita diwajibkan berpuasa dan ibadah puasa adalah separuh dari pada kesabaran. Rasulullah SAW bersabda:

اَلصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ وَ لِكُلِّ شَيْئٍ زَكَاةٌ , وَ زَكَاةٌ اْلجَسَدِ الصَّوْمُ

“Puasa itu setengah dari kesabaran. Bagi tiap-tiap perkara ada zakatnya dan zakatnya badan ialah puasa.”

Dan ketahuilah bahwa ALLAH selalu menyertai orang-orang yang sabar. Dalam surat Al-Baqarah:153 ALLAH berfirman

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sesungguhnya ALLAH beserta orang-orang yang sabar.”
bisyarah.wordpress.com

PERBEDAAN NUZUL AL-QURAN DAN LAILATUL QADR

Nuzulul Qur’an adalah waktu turunya Al-Qur’an yang bertepatan dengan malam yang disebut Lailatul Qadar. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul Qadar. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Qadr ayat 1-5.

Namun begitu, Nuzulul Qu’an sering diperingati pada malam 17 Ramadhan, sementara umum diketahui bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada sepertiga malam yang terakhir bulan Ramadhan. Mengapa bisa berbeda?

Allah SWT berfirman,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr 1-5).

Para ulama berbeda pendapat tentang dlamir “hu” atau kata ganti yang merujuk kepada Al-Qur’an dalam ayat pertama. Apakah Al-Qur’an yang dimaksud dalam ayat itu adalah keseluruhannya, artinya Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam Lailatul Qadar, ataukah sebagiannya, yaitu bahwa Allah SWT menurunkan pertama kali Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu surat Al-‘Alaq Ayat 1-5 pada malam Lailatul Qadar?

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan pada Lailatul Qadar keseluruhnya; baru kemudian secara berangsur diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. (HR. Ath-Thabrani).

Sementara itu Nuzulul Qur’an sering diperingati pada tanggal 17 Ramadhan, dengan mengadakan pengajian atau tabligh akbar, dan bukan pada malam Lailatul Qadar. Hal ini didasarkan pada pendapat yang menyatakan bahwa pada tanggal tersebut Rasulullah SAW pada umur 41 tahun mendapatkan wahyu pertama kali. Yaitu surat Al-‘alaq ayat 1-5 ketika beliau berkonteplasi (berkhalwat) di gua Hira, Jabal Nur, kurang lebih 6 km dari Mekkah.

Nuzulul Qur’an yang diperingati oleh umat Islam dimaksudkan itu adalah sebagai peringatan turunnya ayat Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW yakni ayat 1-5 Surat Al-Alaq.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Adapun Lailatul Qadar merujuk kepada malam diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah atau langit dunia. Dikisahkan bahwa pada malam itu langit menjadi bersih, tidak nampak awan sedikitpun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas.

KH A Nuril Huda
Ketua Pengurus Pusat Lembaga Dawah Nahdlatul Ulama (LDNU)
KH Arwani Faisal
Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU

PENCARIAN LAILATUL QADR


Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

KITA sudah pun berada dalam sepuluh hari-hari terakhir Ramadan yang dirindui oleh para kekasih Allah SWT. Ini bererti kita sudah memasuki sepertiga terakhir Ramadan yang menandakan Ramadan akan melambaikan salam perpisahannya dalam beberapa hari yang pendek.

Hari-hari ini dirasakan pendek oleh para Solehin kerana mereka begitu yakin dengan ketinggian nilai dan keistimewaan hari-hari ini yang menyebabkan mereka seolah-olah merasa tidak mencukupi dengan saki-baki minit dan jam yang ada.

Begitu banyak amal bakti yang belum sempurna dipersembahkan ke hadrat ilahi. Masih banyak bukti pengabdian yang belum sempurna dipersembahkan ke hadapan-Nya.

Di suatu sudut lain, sebahagian orang pula merasakan hari-hari ini begitu pendek kerana pelbagai kesibukan duniawi apabila mengenangkan Hari Raya yang menjelang tiba.

Pelbagai persiapan pakaian, rumah dan juadah yang hendak disempurnakan. Masih banyak urusan kerja dan perniagaan berkaitan Ramadan dan Aidil Fitri yang belum selesai.

Jika tidak berwaspada, sinar hari-hari terakhir Ramadan ini mudah pudar dan tenggelam dalam keriuhan ambang Syawal sedangkan sepertiga terakhir Ramadan inilah merupakan peringkat terpenting dalam madrasah Ramadan yang sedang kita lalui ini.

Keutamaan lailatul qadar

Keutamaan utama hari-hari terakhir Ramadan ini berputar sekitar pemburuan mendapatkan keutamaan lailatul qadar.

Satu malam gilang-gemilang yang lebih baik daripada 1,000 bulan. Malam yang begitu agung dalam kerajaan langit sehingga diabadikan dalam suatu surah al-Quran yang khusus untuk mengisytiharkan keistimewaannya iaitu surah al-Qadr.

Bagi mereka yang sentiasa menjadikan urusan amal ibadah sebagai tumpuan perhatian dan kebimbangan mereka, inilah satu tawaran istimewa daripada Allah SWT yang ‘haram’ dilepaskan.

Sangat malanglah bagi seorang hamba yang dikurniakan hadiah begitu berharga daripada Tuhannya sendiri tetapi tidak mengendahkannya atau tidak menerimanya dengan baik.

Benarlah pesan Rasulullah SAW bahawa, “Sesiapa yang diharamkan mendapat kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah diharamkan. (daripada mendapat segala kebaikan)”.

Memang lailatul qadar adalah suatu hadiah atau anugerah bagi umat ini. Para ulama meriwayatkan pelbagai riwayat bagaimana lailatul qadar dianugerahkan kepada umat Nabi Muhammad SAW kerana mengambil kira jangka hayat umat ini yang jauh lebih pendek berbanding umur umat sebahagian nabi-nabi terdahulu.

Dengan beramal-ibadah pada malam ini barulah boleh kita menyaingi kuantiti ibadah umat-umat yang dikurniakan umur yang jauh lebih panjang.

Harus diinsafi bahawa sebagai suatu urusan ibadah, kelebihan utama lailatul qadar bukan terbatas kepada sifir 1,000 bulan yang begitu sinonim dengan malam tersebut.

Dalam mana-mana urusan ibadah nilai utama sesuatu amalan tetap tergantung kepada rahmat dan kasih Tuhan yang menjadi tumpuan sesuatu amalan tersebut.

Oleh itu memburu lailatul qadar bukan bererti kita sekadar mengejar gandaan seribu bulan itu tetapi yang lebih penting, berusaha mencarinya bererti kita bersungguh-sungguh untuk menyambut dan meraikan suatu bukti kasih dan rahmat Allah SWT kepada kita.

Mendapatkan lailatul qadar

Sesuai sebagai anugerah yang begitu bernilai dan berharga, lailatul qadar tidaklah sampai begitu mudah diperolehi oleh sesiapa sahaja tanpa perlu berusaha.

Walaupun kita mewarisi pelbagai panduan dan petua daripada Rasulullah SAW sendiri dan para ulama pewaris Baginda SAW tentang mengenalpasti malam lailatul qadar, masih tidak ada satu kesepakatan tentang bilakah sebenarnya jatuhnya malam itu.

Akhirnya, bolehlah disimpulkan bahawa peluang untuk mendapatkannya adalah lebih cerah bagi mereka yang menghidupkan malam-malam yang ganjil dari 10 malam yang terakhir, sangat cerah bagi mereka yang menghidupkan kesemua malam terakhir dan paling terjamin bagi mereka yang menghidupkan kesemua malam-malam Ramadan.

Juga harus diingat, para ulama turut berpandangan bahawa siangnya lailatul qadar juga perlu diisi dengan amal ibadah sama seperti malamnya.

Sesuai sebagai tanda rahmat dan pemberian Tuhan, lailatul qadar tidaklah pula terlalu sukar dan terlalu jauh dari capaian kita. Ia ditentukan jatuh di dalam bulan Ramadan.

Bulan Ramadan adalah bulan ibadah umat ini yang mana rata-ratanya malam-malam Ramadan adalah malam-malam yang lebih baik pengisian ibadahnya bagi kita semua.

Walaupun sebahagian ulama berpandangan bahawa kelebihan lailatul qadar dicapai dengan menghidupkan sebahagian besar malam itu, sebahagian ulama meriwayatkan bahawa untuk syarat minimum untuk mendapatkan sebahagian laba malam ini bukannya terlalu sukar.

Imam Malik dalam kitabnya al-Muwatto’ misalnya, meriwayatkan pandangan Ibnul Musayyib bahawa, “Sesiapa yang mengerjakan solat Isyak pada malam lailatul qadar secara berjemaah, maka sesungguhnya dia telah mendapat laba / bahagian daripadanya (lailatul qadar)”.

Pandangan-pandangan yang lebih ringan ini meletakkan syarat mendapatkan lailatul qadar pada menjaga solat-solat fardu pada malam tersebut.

Jika pandangan ini yang kita ambil nescaya mendapatkan lailatul qadar bukannya terlalu sukar dan boleh diusahakan oleh semua orang. Tetapi Tuhan itu Maha Adil, hakikatnya, mereka yang biasa lalai tetap akan lalai dan gagal hatta untuk menjaga solat-solat fardu ini walaupun di malam-malam akhir Ramadan.

Semoga Allah menjauhkan diri kita dan mereka yang bersama kita daripada tergolong dalam golongan yang lalai.

Zikir dan doa yang diajarkan oleh nabi SAW untuk lailatul qadar juga cukup pendek mampu diamalkan oleh semua orang. Maka marilah kita memperbanyakkan doa ini di hari-hari ini, Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘nniy yang maksudnya, “Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun , sukakan keampunan maka ampunilah aku”.

Walaupun pintu untuk kita menghayati lailatul qadar melalui ibadah khusus lebih terbuka di bulan Ramadan dengan budaya dan suasananya yang tersendiri, ini tidak menafikan hakikat luasnya makna dan bentuk ibadah dalam Islam.

Mereka yang terpaksa menyelesaikan tugasan dan kerja mereka yang tidak bercanggah dengan agama dan dalam kadar yang sesuai dengan bulan Ramadan ini, tetap boleh meniatkan kerja-kerja mereka sebagai sebahagian daripada usaha mereka untuk mendapatkan dan menghayati lailatul qadar.

Menghantar Pulang Tetamu Agung

Ramadan, tetamu agung yang setia datang berkunjung setiap tahun tetap akan pergi meninggalkan kita sedikit masa lagi.

Mereka yang benar-benar menghayati dan mendapat faedah dari kedatangan Ramadan dengan menikmati kemanisan iman dan peningkatan takwa yang datang bersamanya sudah tentu menghadapi saat-saat perpisahan ini dengan penuh kesedihan berbaur kebimbangan dan pengharapan.

Sedih mengenangkan perpisahan dengan bulan yang dikasihi ini. Bimbang adakah amalan diterima dengan tahap penghayatan yang tidak seberapa. Berharap agar dosa-dosa diampunkan, dikembalikan kepada fitrah serta berharap agar bertemu lagi dengan Ramadan yang akan datang.

Inilah sikap yang diriwayatkan daripada sebahagian para salaf. Mereka berdoa kepada Allah SWT selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadan. Setelah itu mereka berdoa pula selam enam bulan berikutnya agar Allah SWT menerima amalan mereka di bulan Ramadan yang berlalu.

Semoga Allah mengurniakan kita himmah yang tinggi dalam beragama seumpama mereka. Marilah kita menghantar pulang Ramadan kali ini hingga ke ‘hujung desa’. Ibarat menjamah juadah yang paling kita gemari, janganlah kita tinggalkan Ramadan kali ini bersisa sedikitpun.

Ibarat suatu perlumbaan marathon yang kita sertai, apalah gunanya kita hebat di peringkat awal larian hanya untuk lemah-lesu ketika menuju garisan penamat. Marilah kita rebut setiap ketika yang berbaki di bulan Ramadan kali ini dan mengisinya dengan sebaik mungkin.

Sesungguhnya La hawla wala quwwata illa billah al-’Aliyyil ‘Adzim yang maksudnya, “Tiada daya (menghindari maksiat) dan tiada kekuatan (melakukan ketaatan) melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”.

AMALAN-AMALAN DI BULAN SYA'ABAN

Amalan amalan di bulan Sya’ban, Keutamaan Puasa di Bulan Sya’ban dan Keutamaan malam nisfu Sya’ban serta Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya’ban

Saudara-saudara seiman !!!
Mari kita sambut bulan Ramadhan yang penuh berkah mulai bulan Sya’ban ini. Kita persiapkan diri kita baik fisik dan rohani untuk bulan yang penuh karunia tersebut.

Mempersiapkan rohani kita adalah dengan mulai mempelajari hal-hal penting yang perlu kita amalkan selama bulan tersebut. Kita buka kembali pelajaran fiqhus-syiyam kita, yaitu fikih berpuasa yang benar dan sesuai ajaran. Kita sadarkan diri dan kesadaran kita akan pentingnya bulan tersebut bagi agama dan keimanan kita.

Secara fisik, kita juga harus mempersiapkan diri di bulan ini dengan melatih diri memperbanyak ibadah dan khususnya puasa. Itulah salah satu hikmah kita dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban ini. Dan di bulan Sya’ban ini juga ada malam nisfu sya’ban, yaitu malam pertengahan bulan Sya’ban. Lepas dari kuat tidaknya dalil mengenai amalam pada malam tersebut, namun malam itu bisa kita jadikan waktu pengingat kembali akan persiapan-persiapan kita dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh maghfirah. Berikut ini hadist-hadist seputar keutamaan bulan Sys’ban semoga bisa kita baca dan amalkan:

Anjuran Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban

Dari Aisyah r.a. beliau berkata:”Rasulullah s.a.w. berpuasa hingga kita mengatakan tidak pernah tidak puasa, dan beliau berbuka (tidak puasa) hingga kita mengatakan tidak puasa, tapi aku tidak pernah melihat beliau menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa selain bulan Ramadhan kecuali pada bulan Sya’ban”. (h.r. Bukhari). Beliau juga bersabda:”Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.

Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah s.a.w.:’Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya’ban? Rasulullah s.a.w. menjawab:”Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya antara Rajab dan Ramadhan, di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa”. (h.r. Abu Dawud dan Nasa’i).
Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban

Dari A’isyah: “Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.

Dalam hadis Ali, Rasulullah bersabda: “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam itu, lalu Allah bersabda: “Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing.” (H.R. Ibnu Majah dengan sanad lemah).

Ulama berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk Fadlail A’mal (keutamaan amal). Walaupun hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun melihat dari hadis-hadis lain yang menunjukkan kautamaan bulan Sya’ban, dapat diambil kesimpulan bahwa malam Nisfu Sya’ban jelas mempunyai keuatamana dibandingkan dengan malam-malam lainnya.

Bagaimana merayakan malam Nisfu Sya’ban?

Adalah dengan memperbanyak ibadah dan salat malam dan dengan puasa. Adapun meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan berlebih-lebihan seperti dengan salat malam berjamaah, Rasulullah tidak pernah melakukannya. Sebagian umat Islam juga mengenang malam ini sebagai malam diubahnya kiblat dari masjidil Aqsa ke arah Ka’bah.

Jadi sangat dianjurkan untuk meramaikan malam Nisfu Sya’ban dengan cara memperbanyak ibadah, salat, zikir membaca al-Qur’an, berdo’a dan amal-amal salih lainnya. Wallahu a’lam

Sumber Pesantren Virtual

Keutamaan di Bulan Sya’ban

Sya’ban adalah istilah bahasa Arab yang berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung. Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan.

Karena bulan Sya’ban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, karena diapit oleh dua bulan mulia ini, maka Sya’ban seringkali dilupakan. Padahal semestinya tidaklah demikian. Dalam bulan Sya’ban terdapat berbagai keutamaan yang menyangkut peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, baik sebagai individu maupun dalam lingkup kemasyarakatan.

Karena letaknya yang mendekati bulan Ramadhan, bulan Sya’ban memiliki berbagai hal yang dapat memperkuat keimanan. Umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri menjemput datangnya bulan termulia dengan penuh suka cita dan pengharapan anugerah dari Allah SWT karena telah mulai merasakan suasana kemuliaan Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda,

ذاكَ شهر تغفل الناس فِيه عنه ، بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم — حديث صحيح رواه أبو داود النسائي

”Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada ketika bulan Sya’ban. Periwayatan ini kemudian mendasari kemuliaan bulan Sya’ban di antar bulan Rajab dan Ramadhan.

Karenanya, pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. Pada bulan ini, sungguh Allah banyak sekali menurunkan kebaikan-kebaikan berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), dan itqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka).

Dari sinilah umat Islam, berusaha memuliakan bulan Sya’ban dengan mengadakan shodaqoh dan menjalin silaturrahim. Umat Islam di Nusantara biasanya menyambut keistimewaan bulan Sya’ban dengan mempererat silaturrahim melalui pengiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada para kerabat, sanak famili dan kolega kerja mereka. Sehingga terciptalah tradisi saling mengirim parcel di antara umat Islam.

Karena, di kalangan umat Islam Nusantara, bulan Sya’ban dinamakan sebagai bulan Ruwah, maka tradisi saling kirim parcel makanan ini dinamakan sebagai Ruwahan. Tradisi ini menyimbolkan persaudaraan dan mempererat ikatan silaturrahim kepada sesama Muslim.

Nishfu Sya’ban

Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriyah. Keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasanya disebut sebagai Nishfu Sya’ban. Secara harfiyah istilah Nisfu Sya’ban berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban.

Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru.

Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.

Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh.

Dengan demikian, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan sya’ban dalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.

Sumber Nahdlatul Ulama

NISFU SYAABAN DAN RAMADHAN

SEKARANG kita sudah semakin hampir ke penghujung Syaaban dan semakin mendekati Ramadan al-Mubarak, alhamdulillah.

Sesudah kita meraikan Rejab dengan kelebihan Israk dan Mikrajnya, kita diberi peluang menghayati bulan Syaaban dengan segala kelebihannya seperti yang telah kita himbau di minggu lepas, terutamanya kelebihan malam nisfu Syaaban yang baru kita lalui.

Tidak beberapa hari lagi, kita akan, insya-Allah memasuki gerbang Ramadan yang penuh keberkatan dan keistimewaan termasuklah malam yang paling mulia, lailatul qadar. Semoga kita menemukannya pada tahun ini. Amin.

Jelas kelihatan bagaimana Rejab dan Syaaban dijadikan sebegitu rupa agar berperanan sebagai kelas persediaan untuk memasuki madrasah Ramadan termasuklah yang baru kita tempuhi iaitu malam nisfu Syaaban yang mana Rasulullah SAW amat menghargainya dan tidak melepaskan peluang menghidupkannya dengan munajat dan qiam.

Ada kalangan para ulama yang berpandangan bahawa malam nisfu Syaaban berkedudukan di tangga kedua sebagai malam yang paling mulia di sisi Tuhan selepas lailatul qadar. Bersungguh-sungguh menghidupkan malam nisfu Syaaban turut bermakna kita mencalonkan nama-nama kita untuk ‘meminang’ lailatul qadar.

Di antara kebesaran dan kehebatan sesuatu perkara ialah banyaknya nama dan gelaran baginya. Nisfu Syaaban turut memiliki ciri ini. Ia digelar oleh para pemuka ulama dari kalangan salaf dan khalaf dengan pelbagai nama yang mulia termasuklah Lailah al-Barakah (Malam Keberkatan), Lailah al-Ghufran (Malam Pengampunan) dan Lailah al-’Itq min al Nar (Malam Pembebasan Dari Api Neraka) Lailah al Baraah (Malam Pelepasan).

Semua nama ini bukanlah gelaran kosong kerana memang perkara-perkara inilah yang ditawarkan dan diburu pada malam tersebut.

Merayu bantuan

Nisfu Syaaban adalah antara sebaik-baik malam untuk kita bermesra, mengadu hal dan merayu bantuan dan pertolongan Tuhan. Maka sudah menjadi kebiasaan para solehin umat ini mengikut jejak langkah Penghulu mereka yang telah meninggalkan contoh yang agung dalam memuliakan malam yang penuh mustajab dan berkat ini.

Diriwayatkan oleh Abdur Razzaq ibn Humam daripada Ali ibn Abu Talib r.a daripada Nabi SAW bersabda: “Apabila tiba malam nisfu Syaaban, hendaklah kalian bangun pada malamnya (melakukan ibadat) dan berpuasa pada siangnya kerana Allah SWT menurunkan perintah-Nya pada malam tersebut mulai dari terbenamnya matahari. Lalu Allah berfirman, “Adakah terdapat di kalangan hamba-hambaKu yang memohon keampunan, maka akan Aku ampunkannya. Adakah terdapat di kalangan mereka yang memohon rezeki, maka akan Aku turunkan rezeki untuknya. Adakah di kalangan mereka orang yang ditimpa bala, maka akan Aku sejahterakannya. Adakah di kalangan mereka begini dan adakah di kalangan mereka begini sehinggalah menjelangnya fajar”. (Dikeluarkan oleh Ibnu Majah di dalam Sunannya)

Dikeluarkan oleh Imam al-Dar al-Qutni dan Imam Ahmad dengan sanadnya daripada Aisyah r.a, beliau berkata: “Pada suatu malam, aku kehilangan Rasulullah maka aku pun keluar mencarinya dan aku menemui Baginda SAW di Baqi’ sedang mendongakkan kepalanya ke langit. Maka Baginda SAW bersabda, “Adakah kamu takut Allah dan Rasul-Nya menzalimimu?” Aisyah berkata: Aku berkata, “Bukan begitu, wahai Rasulullah! Aku cuma menyangka kamu mendatangi isteri-isterimu yang lain”. Baginda SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SAW turun (menurunkan rahmat atau perintah-Nya) ke langit dunia pada malam nisfu Syaaban, maka Dia mengampunkan dosa-dosa hamba-Nya lebih banyak daripada bilangan bulu kambing Bani Kilab”.

Al Dar Qutni telah meriwayatkan juga hadis Bakar ibn Sahl daripada Hisyam ibn ‘Urwah daripada bapanya, daripada Aisyah r.a: “Malam Nisfu Syaaban adalah malam giliranku bersama Rasulullah SAW. Pada malam itu, Rasulullah SAW bermalam di sisiku. Tatkala tengah malam, aku kehilangan Baginda SAW dari alas tempat tidurku. Demi Allah! Alas kain tempat tidurku itu bukanlah kain bulu yang ditenun dengan sutera, atau kapas”. Aisyah ditanya, “kain apakah itu?” Jawab Aisyah, “Ia adalah kain bulu dan isinya daripada bulu unta. Maka aku mencarinya di bilik-bilik isterinya yang lain tetapi aku tidak menemuinya. Lalu aku kembali semula ke bilikku, dan aku mendapati Baginda SAW seperti sehelai baju yang jatuh ke tanah sedang sujud dan Baginda SAW menyebut di dalam sujudnya: “Telah sujud kepada-Mu jasad dan wajahku, telah beriman denganMu kalbuku. Inilah tanganku dan jenayah ke atas diriku yang telah aku lakukan dengannya. Wahai Tuhan Yang Maha Besar yang diharapkan oleh segala yang besar! Ampunilah dosaku yang besar. Telah sujudlah wajahku kepada Allah yang menciptakannya, membentukkan rupa parasnya, memberikan pendengaran dan penglihatannya”.

Kemudian Baginda SAW mengangkat kepalanya dan kembali sujud lalu membaca: “Aku memohon perlindungan dengan keredaan-Mu daripada kemurkaan-Mu, dengan keampunan-Mu daripada balasan-Mu, dengan-Mu daripada azab-Mu. Tidak terhitung pujian ke atas-Mu, Engkau adalah sebagaimana pujian-Mu ke atas Zat-Mu. Aku berkata sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudaraku, Daud a.s: “Aku menyembam mukaku ke tanah bagi Tuanku dan berhaklah baginya sujud kepada-Nya”.

Kemudian Baginda SAW mengangkat wajahnya dan berdoa: “Ya Allah! Kurniakanlah kepadaku hati yang bertakwa, suci bersih, tidak kufur dan tidak celaka”.

Aku mendengar Baginda SAW membaca dalam sujudnya: “Aku memohon perlindungan dengan keampunan-Mu dari balasan azab-Mu dan aku memohon perlindungan dengan keredaan-Mu daripada kemurkaan-Mu, aku memohon perlindungan dengan-Mu daripada azab-Mu. Sungguh besar Zat-Mu yang tidak terhitung pujiannya ke atas-Mu, Engkau adalah sebagaimana pujian-Mu ke atas Zat-Mu”.

Solat tasbih

Itulah suatu gambaran bagaimana Nabi kita SAW begitu menghayati dan memuliakan malam nisfu Syaaban. Sunnah baginda ini telah menyuntik inspirasi kepada para pemuka ulama umat ini untuk turut menghidupkan malam tersebut.

Selain itu, kita juga dianjurkan agar menghidupkan malam nisfu Syaaban dengan solat tasbih. Menerusi hadis yang panjang itu, Rasulullah SAW menyatakan bahawa solat tasbih adalah antara 10 perkara yang jika dilakukan akan mengampunkan dosa yang awal dan yang akhir, yang lama dan yang baru, yang tersalah dan disengajakan, yang kecil mahupun besar malah, yang dilakukan secara sembunyi atau terang-terangan.

Malah baginda SAW turut menyarankan agar kita menunaikan solat tasbih setiap hari, seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali atau setidak-tidaknya seumur hidup sekali.

Menurut Sheikh Soleh al-Jaafari al-Azhari, mantan Imam Besar dan tenaga pengajar di Masjid al-Azhar, malam tersebut juga boleh dihidupkan dengan pelbagai jenis ibadah lain untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT seperti solat, membaca al-Quran, berzikir dan berselawat ke atas Nabi SAW.

Namun Sheikh Salim al-Sanhuri al-Maliki lebih mengutamakan solat tasbih kerana galakan yang kuat daripada Nabi SAW kepada bapa saudaranya, al-Abbas r.a dan pahalanya yang amat besar.

Adalah amat tidak wajar jika kebiasaan sesetengah umat untuk menghidupkan malam tersebut dengan cara tertentu dijadikan pertikaian termasuk atas alasan cara tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Oleh kerana galakan Nabi SAW itu umum sifatnya maka terserahlah kepada umat untuk memilih cara yang paling baik sesuai dengan kemampuan mereka. Tidak peliklah misalannya jika mereka memilih untuk membaca surah yasin pada malam itu kerana surah tersebut adalah yang paling mudah dibaca oleh kebanyakan orang dan pada masa yang sama adalah antara surah yang teristimewa dalam al-Quran.

Alasan bahawa Rasulullah SAW tidak melakukannya tidak semestinya menunjukkan ke atas pengharaman sesuatu kerana kaedah syariat ada al-Tarku la yuntiju Hukman yang bermaksud bahawa setiap perkara yang ditinggalkan oleh Nabi SAW tidak membawa implikasi hukum.

Oleh itu apa-apa yang tidak pernah dilakukan oleh Baginda SAW yang tidak bercanggah dengan syarak dan tidak disertai larangan daripada Baginda SAW, tidaklah menunjukkan pengharamannya.

Menerusi sekian banyak hadis dan athar yang merakamkan bagaimana Rasulullah SAW, para sahabat dan salafussoleh yang lain memburu peluang menghidupkan malam nisfu Syaaban dengan berdoa dan beribadat kepada Allah SWT, jelas kepada kita tentang keistimewaan dan kelebihan malam yang penuh berkat ini.

Bagi mereka yang telah ditaufiqkan menghidupkannya pada tahun ini, tahniah kita ucapkan dan semoga amalan mereka ditempatkan ditempat yang mulia di sisi Tuhan, rabbul jalil.

Bagi mereka yang ketinggalan atau tertinggal pada kali ini, wajarlah mereka merasa kesal dan menyesal di atas kelalaian mereka itu. Mungkin sahaja jika kekesalan mereka itu benar-benar jujur dan mendalam ia akan turut melayakkan mereka mendapatkan ganjaran seolah-olah mereka telah pun turut memuliakan malam tersebut.

Semoga kedua-dua kelompok ini akan dikira layak untuk memuliakan malam ini di tahun-tahun mendatang serta dipilih untuk menjadi calon-calon terbaik untuk lailatul qadar dan madrasah Ramadan yang bakal tiba. Amin ya rabbal alamin.

MANFAATKAN SYA'ABAN SEBAGAI PERSIAPAN RAMADHAN

Bulan Syaaban adalah antara bulan-bulan yang mulia di sisi Allah swt. Ia adalah bulan yang membawa keberkatan, nikmat dan kesejahteraan bagi umat Islam seluruhnya. Justeru, Baginda Rasulullah saw banyak berpuasa sunat dalam bulan yang mulia ini di samping menggalakkan umat Islam melipatgandakan amal ibadat. Ini kerana Nabi kita Muhammad saw meningkatkan amal ibadatnya kepada Allah swt pada bulan yang agung ini.

Namun, Rasulullah pernah menegaskan bahawa kedatangan bulan syaaban tidak begitu diraikan dan disambut dengan penuh kesyukuran, ramai Muslim yang begitu leka, lalai dan alpa dalam merebut ganjaran dan kelebihan yang Allah sediakan sepanjang bulan Syaaban ini. Mereka tidak mengambil kesempatan untuk beramal ibadat sebanyak mungkin seperti mana mereka bersungguh-sungguh meluangkan masa untuk beribadat kepada Allah swt pada bulan Ramadan. Ini kerana adat Jahiliyah dahulu orang Mekah lebih mengutamakan dan memuliakan bulan Rejab dan melupakan bulan Syaaban.

Sehubungan itu, Usamah bin Zaid ra berkata: Aku bertanya Rasulullah tentang bulan Syaaban kerana aku tidak pernah lihat baginda banyak berpuasa sunat sebagaimana beliau berpuasa dalam bulan Syaaban. Baginda menjawab: Bulan yang banyak manusia yang lalai dan padanya ialah bulan di antara Rejab dan Ramadan. Pada bulan Syaaban akan diangkatkan segala catatan amalan hamba kepada Allah swt. Dengan itu aku amatlah suka supaya diangkatkan segala amalanku ketika aku sedang berpuasa. (Hadis riwayat Ahmad dan Nasa’i)

Maksud hadis di atas jelas menunjukkan bahawa segala amal ibadat setiap Muslim sebenarnya diangkat oleh malaikat pada tiap-tiap hari manakala amal ibadat bulan Syaaban ini bolehlah dikatakan sebagai laporan tahunan yang disediakan oleh malaikat untuk dibawa ke hadrat Allah Yang Maha Besar. Setiap Muslim sewajibnya menginsafi bahawa segala gerak geri, tindakan, perkataan, lintasan niat di hati dan sebagainya akan dicatatkan oleh malaikat tidak kira sama ada yang besar mahu pun yang kecil.

Hal ini amat jelas melalui firman Allah taala yang bermaksud: Dan demi sesungguhnya Kami telah mencipta manusia dan Kami sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedangkan (pengetahuan) Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Semasa dua malaikat (yang mengawal dan menjaganya) menerima dan menulis segala perkataan dan perbuatannya; yang satu duduk di sebelah kanannya dan yang satu lagi di sebelah kirinya. Tidak ada sebarang perkataan yang dilafazkan (atau perbuatan yang dilakukannya) melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang sentiasa sedia (menerima dan menulisnya). (Surah Qaf, ayat 16 – 18)

Oleh itu, setiap Muslim seharusnya menyedari dan menginsafi betapa ketatnya pengawasan Ilahi terhadap sekalian makhluk-Nya. Maka, dengan menginsafi pengawasan yang datang daripada pihak malaikat iaitu Malaikat ‘Atid dan Raqib di samping pengawasan secara langsung daripada Allah taala, mudah-mudahan manusia akan mempunyai deria rasa kesedaran dan keinsafan yang mendalam untuk menghentikan dan mengakhiri segala amalan keburukan yang dilakukannya dari satu segi dan juga memiliki dorongan dan semangat untuk melaksanakan berbagai amalan kebajikan dan amalan salih yang dianjurkan Islam dari satu segi yang lain .

Oleh kerana Rasulullah merupakan contoh teladan umat Islam dalam segala lapangan hidup, maka mereka digalakkan banyak berpuasa sunat pada bulan Syaaban sebagaimana berpuasanya Rasulullah pada bulan tersebut. Ini kerana selepas Syaaban akan dituruti pula oleh bulan Ramadan yang diwajibkan kepada umat Islam berpuasa keseluruhannya. Dengan itu puasa pada bulan Syaaban merupakan perintis dan latihan untuk membiasakan diri bagi menunaikan kewajipan berpuasa dalam bulan Ramadan sepenuhnya. Bagi mereka yang sudah biasa berpuasa sudah tentu kuranglah terasa kepenatan dan tidak pula terkejut serta merasa berat hati untuk berpuasa dalam Ramadan nanti.

Selanjutnya, terdapat banyak hadis yang memberi perangsang kepada umat Islam supaya mengikuti sunah Rasulullah saw. Di antaranya, Saidatina ‘Aisyah pernah meriwayatkan bahawa beliau tidak pernah melihat Rasulullah saw berpuasa sebulan sepenuhnya kecuali bulan Ramadan, beliau juga tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa hampir sebulan penuh melainkan bulan Syaaban. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim) Saidatina Aishah pernah meriwayatkan bahawa Rasulullah pernah berpuasa bulan Syaaban kesemuanya. (Hadis riwayat Bukhari)

Saidatina Ummu Salmah pula berkata: ”Aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Syaaban dan Ramadan. (Hadis riwayat Nasa’i)

Berdasarkan himpunan hadis di atas dapat disimpulkan bahawa Islam menggalakkan umatnya supaya melaksanakan ibadat puasa sunat dalam bulan Syaaban. Lebih-lebih lagi ibadat puasa adalah suatu ibadat yang sangat dituntut dilakukan dalam bulan Syaaban. Bersesuaian dengan kedudukannya sebagai gerbang Ramadan, bulan ini sudah tentu akan melatih Muslim berpuasa menjelang ketibaan ujian yang berat di bulan Ramadan nanti. Justeru, ada kalangan ulama berpendapat puasa di bulan ini disifatkan yang paling afdal atau baik selepas daripada berpuasa di bulan Ramadan.

Berkenaan dengan kelebihan Nisfu Syaaban iaitu malam pertengahan bulan Syaaban pula kita boleh dapati melalui hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya, daripada Muaz bin Jabal r.a. bahawa Nabi saw bersabda yang maksudnya: Allah swt melihat kepada hamba-Nya pada malam Nisfu Syaaban dan Allah akan memberikan pahalanya kepada seluruh hambanya melainkan mereka yang melakukan kesalahan syirik dan orang yang berzina.

Dalam hadis yang lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru bin al-As bermaksud: Allah swt memandang kepada makhluk-Nya pada malam Nisfu Syaaban, lalu diampuni dosa hamba-Nya kecuali dua golongan, iaitu orang yang membunuh diri dan orang yang menyebarkan fitnah. (Hadis riwayat Ahmad)

Demikianlah antara himpunan hadis yang menggambarkan secara umum kepada kita berkenaan kelebihan bulan Syaaban yang sungguh istimewa ini. Oleh itu, amal ibadat mesti dilipat gandakan sebagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah yang memperbanyakkan puasa sunat. Yang paling utama sekali, setiap Muslim sewajarnya merebut peluang keemasan yang terhampar pada bulan Syaaban untuk meraih keampunan dan keredaan Ilahi kerana terdapat hadis yang menyatakan bahawa Allah swt sedia memberi keampunan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat pada sepanjang bulan Syaaban yang penuh rahmat tersebut.

PENGAJARAN PERISTIWA ISRA' DAN MI'RAJ


Oleh PANEL PENYELIDIKAN YAYASAN SOFA, NEGERI SEMBILAN

PERISTIWA Israk dan Mikraj merupakan perjalanan dan mukjizat agung yang dikurniakan oleh Allah kepada manusia yang paling layak dan teragung, Rasulullah SAW.

Dalam perjalanan tersebut diperlihatkan kepada Baginda SAW pelbagai gambaran dan pemandangan dari alam penuh rahsia yang kesemuanya itu mengandungi pelbagai hikmah dan hakikat yang akhirnya bersangkut paut dengan apa yang berlaku di alam zahir ini dari urusan dan kehidupan para hamba

Peristiwa Israk dan Mikraj penting untuk dihayati terutamanya manusia zaman kini yang semakin jauh dari dapat menyelami hikmah-hikmah Ilahi. Sesungguhnya Israk dan Mikraj menyimpan pelbagai rahsia dan membongkar pelbagai pengajaran, peringatan dan kelebihan terutamanya kedudukan Rasulullah SAW yang istimewa di sisi-Nya.

Pengajaran Tentang Solat

Antara pengajaran terpenting yang diperolehi daripada perjalanan Israk dan Mikraj ialah tentang solat. Di antara kefarduan solat dan mukjizat Israk dan Mikraj, terdapat hubung kait yang begitu mendalam dan erat, sehingga munasabahlah dinamakan solat itu sebagai al Mikraj al Ruhi.

Apabila Mikraj Nabi kita SAW dengan jasad dan rohnya ke langit sebagai suatu mukjizat, maka Allah SWT menjadikan bagi umat Muhammad SAW Mikraj Roh pada setiap hari sebanyak lima kali. Di mana roh dan hati mereka pergi menemui Allah bagi memastikan mereka bebas dari kekangan hawa nafsu dan menyaksikan keagungan Allah, kekuasaan serta keesaan-Nya, sehingga mereka menjadi orang yang mulia di atas permukaan bumi ini.

Kemuliaan yang diperolehi bukan dengan jalan penindasan, kekuatan dan kemenangan, tetapi dengan jalan kebaikan dan ketinggian, jalan kesucian dan kemuliaan serta jalan solat.

Tidaklah solat itu sekadar robot atau pergerakan alat-alat yang tidak mempunyai makna, tetapi ia adalah sebuah madrasah yang mendidik kaum mukminin atas semulia-mulia makna kebaikan, kecintaan dan kemuliaan dalam menempuh kesesakan hidup, hiruk-pikuk dan kejahatannya.

Solat merupakan sebesar-besar amalan dalam Islam. Sesiapa yang memeliharanya, maka dia akan memperolehi kebahagiaan dan keuntungan. Sesiapa yang meninggalkannya, maka dia akan memperolehi kecelakaan dan kerugian.

Allah SWT telah memfardukan solat ke atas hamba-hamba-Nya yang beriman supaya ia menjadi penghubung dengan hadrat-Nya, peringatan tentang keagungan-Nya dan tanda kesyukuran hamba-Nya atas nikmat yang dicurahkan-Nya.

Ia merupakan asas bagi mencapai kejayaan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sabda Rasulullah SAW: “Amalan pertama yang dihisab bagi hamba pada hari kiamat adalah solat. Sekiranya solatnya itu baik, maka baiklah segala amalannya. Sekiranya solatnya itu rosak, maka rosaklah segala amalannya yang lain”. (Diriwayatkan oleh al Tabrani di dalam al Awsot juga disebut di dalam Majma’ al Zawaid (1/291)).

Tidak menjadi suatu perkara yang pelik apabila solat dijadikan sebagai kepala amalan. Sesungguhnya dengan melazimkan diri menunaikan solat secara sempurna dengan khusyuk dan khudhu’ kepada Allah, akan menanam di dalam jiwa sifat muraqabah kepada-Nya.

Sesiapa yang telah mencapai muraqabatullah, akan berasa takut kepada-Nya, bertakwa kepada-Nya, menunaikan perkara yang menjurus kepada keredaan-Nya, berkata benar apabila berbicara, menunaikan janji apabila berjanji, menunaikan amanah, bersabar ketika ditimpa kecelakaan dan bersyukur dengan nikmat-Nya.

Firman Allah SWT dalam surah al-Maarij ayat 19 hingga 23: Sesungguhnya manusia itu dijadikan bertabiat resah gelisah (lagi bakhil kedekut). Apabila dia ditimpa kesusahan, dia sangat resah gelisah. Dan apabila dia beroleh kesenangan, dia sangat bakhil kedekut; kecuali orang-orang yang mengerjakan solat. Iaitu mereka yang tetap mengerjakan solatnya.

Seorang hamba yang memelihara solatnya dengan sempurna, tidak akan terleka daripada muraqabatullah dalam kesibukan dan urusan sehariannya. Sesungguhnya sesiapa yang memelihara solatnya dengan menunaikannya dengan khusyuk, akan diampunkan dosanya dan dikasihi oleh Tuhannya.

Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya setiap solat itu menghapuskan kesalahan yang dilakukan di hadapannya”. (riwayat Imam Ahmad dan al Tabrani).

Sabda Baginda SAW lagi: “Sesiapa mengetahui bahawa solat itu adalah hak yang wajib, maka dia masuk syurga”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al Baihaqi dan al Hakim).

Sesiapa yang tidak memelihara solatnya, maka dia diharamkan di dunia daripada memperolehi nikmat keberkatan, taufik dan kebaikan serta akan diazab selepas kematiannya dengan dihentakkan kepalanya ke batu.

Setiap kali kepalanya itu pecah, akan dikembalikan seperti keadaan asalnya. Dia juga akan datang pada hari kiamat tanpa cahaya, petunjuk keimanan dan diharamkan terselamat dari azab, kehinaan dan kerendahan.

Wahai kaum Muslimin! Bertakwalah kalian kepada Allah dan peliharalah solat serta tunaikanlah kerana Allah pada waktunya dengan khusyuk. Tiada yang menghalang kalian untuk menunaikannya walaupun disebabkan kesejukan dan juga pekerjaan.

Bermujahadahlah sehingga kalian tidak mengabaikan menunaikan solat Subuh pada waktunya tatkala kalian berseronok menikmati kelazatan tidur dan ketika malas. Begitu juga bermujahadahlah sehingga kalian tidak lalai menunaikan solat Asar kerana terlalu sibuk mendahulukan pekerjaan.

Berhati-hatilah kalian agar harta, perniagaan, kemegahan, takhta, pemerintahan dan kementerian tidak menyibukkan kalian dari menunaikan solat.

Jadilah kalian dari kalangan mereka yang tergolong dalam firman Allah SWT yang maksud-Nya: (Ibadat itu dikerjakan oleh) orang-orang yang kuat imannya yang tidak dilalaikan oleh perniagaan atau berjual-beli daripada menyebut serta mengingati Allah, dan mendirikan solat serta memberi zakat; mereka takutkan hari (Kiamat) yang padanya berbalik-balik hati dan pandangan. (Mereka mengerjakan semuanya itu) supaya Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan bagi apa yang mereka kerjakan, dan menambahi mereka lagi dari limpah kurnia-Nya; dan sememangnya Allah memberi rezeki kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya dengan tidak terhitung. (al-Nur: 37 dan 38)

Daripada Abdullah ibn Amru berkata, pada suatu hari, Nabi SAW menyebut tentang solat dengan sabdanya: “Sesiapa yang memelihara solat maka baginya cahaya, petunjuk dan kejayaan pada hari kiamat. Sesiapa yang tidak memeliharanya, maka tiada baginya cahaya, petunjuk dan kejayaan. Pada hari kiamat, dia akan bersama Qarun, Firaun, Haaman dan Ubai ibn Khalaf”. (riwayat al Tabrani dan Ibnu Hibban)

Daripada Abi Hurairah r.a berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apakah pandangan kalian, jika ada sebatang sungai di pintu rumah salah seorang dari kalian, dia mandi di dalam sungai tersebut pada setiap hari sebanyak lima kali. Adakah masih ada suatu kotoran yang tinggal pada badannya?” Sahabat menjawab, “Tidak ada suatu kotoran pun yang tinggal”. Sabda Baginda SAW, “Begitu jugalah perumpamaannya dengan solat lima waktu yang dengannya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan. (riwayat al Bukhari dan Muslim)

Banyak lagi pengajaran yang terdapat dalam peristiwa Israk dan Mikraj terutamanya beberapa keistimewaan yang dikurniakan kepada Rasulullah SAW bagi menunjukkan kepada kita tentang ketinggian martabat Baginda SAW.

Semoga kita digolongkan di kalangan orang-orang yang celik mata hati sehingga kita dapat menghayati hikmah dan pengajaran di sebalik peristiwa agung, Israk dan Mikraj

HUKUM SOLAT DAN DOA PADA MALAM NISFU SYA'ABAN

Petikan Fatwa Fadhilah Mufti Mesir Prof. Dr Ali Jum’ah.

Terjemahan : Ibnu Juhan Al-Tantawi

Soalan :

Apa hukum melakukan solat dan doa pada malam nisfu Sya’ban seterusnya berpuasa pada siang harinya?

Jawapan :

Malam nisfu Sya’ban merupakan malam yang barakah. Terdapat sebilangan besar dalil yang menyebut tentang kelebihan malam nisfu Sya’ban daripada hadis-hadis (nabi S.A.W) yang saling menguatkan antara satu sama lain serta mengangkat (hadis-hadis tersebut) ke darjat Hadis Hasan dan Kuat (dari segi hukumnya).

Maka mengambil berat terhadap malam nisfu Sya’ban serta menghidupkan malamnya adalah sebahagian daripada agama yang tiada keraguan padanya. Adapun keraguan yang timbul adalah disebabkan pandangan terhadap hadis-hadis yang barangkali hukumnya Dhaif yang menceritakan tentang kelebihan malam tersebut.

Antara hadis-hadis yang menceritakan tentang kelebihannya :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْها قَالَتْ : “فَقَدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجْتُ أَطْلُبُهُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ :يَا عَائِشَةُ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ :قَدْ قُلْتُ وَمَا بِي ذَلِكَ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ” – رواه الترميذي وابن ماجه وأحمد .

Hadis daripada Ummul Mukminin Sayidatina ‘Aisyah R.A telah berkata : “Aku telah kehilangan nabi S.A.W pada suatu malam, maka aku telah keluar untuk mendapatinya maka baginda berada (sedang berdiri di kawasan perkuburan) Baqi’ sambil mendongakkan kepalanya ke langit.lalu baginda berkata : Wahai ‘Aisyah, adakah kamu takut Allah dan Rasulnya melakukan kezaliman ke atas kamu? Berkata ‘Aisyah : Bukan demikian sangkaanku tetapi aku menjangkakan kamu telah pergi kepada sebahagian daripada isteri-isteri kamu (atas perkara-perkara yang mustahak lalu aku ingin mendapat kepastian). Lalu baginda bersabda : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah turunkan (malaikatNya dengan perintahNya) pada malam nisfu Sya’ban ke langit dunia, lalu Allah mengampunkan dosa-doa (yang dilakukan oleh hambaNya) lebih banyak daripada bilangan bulu-bulu yang terdapat pada kambing-kambing peliharaan (bani) Kalb.”

-Hadis Riwayat Al-Tirmizi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad.

Seterusnya,

عن مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ ” – رواه الطبرانى وصححه ابن حبان .

Hadis daripada Saidina Mu’adz ibnu Jabal R.A bahawa nabi S.A.W telah bersabda : “Allah memandang pada kesemua makhluk ciptaanNya pada malam nisfu Sya’ban, lalu Allah mengampunkan dosa-dosa kesemua makhlukNya melainkan dosa orang musyrik (yang menyekutukan Allah) dan dosa orang yang bermusuhan.”

-Riwayat Al-Tobrani dan disahihkan oleh Ibnu Hibban.

Seterusnya,

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ كرم الله وجهه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ” – رواه ابن ماجه .

Hadis daripada Saidina ‘Ali R.A bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda : “Apabila masuk malam nisfu Sya’ban, maka hendaklah kamu bangun pada malamnya dan berpuasa pada siang harinya, Sesungguhnya Allah Ta’ala menurunkan malaikatnya ke langit dunia pada malamnya setelah terbenamnya matahari, lalu Allah berkata : Sesiapa yang memohon keampunan padaKu maka Aku akan mengampunkan baginya, Sesiapa yang memohon rezeki padaKu maka Aku akan memberikannya rezeki, Sesiapa yang ditimpa musibah maka Aku akan melepaskannya, sesiapa yang demikian…sesiapa yang demikian …sehinggalah terbitnya fajar.”

-Riwayat Ibnu Majah.

Tidaklah mengapa seandainya membaca surah Yasin sebanyak 3 kali selepas solat maghrib secara terang-terangan dan beramai-ramai. Hal ini kerana termasuk dalam perkara menghidupkan malam tersebut dan perkara berkaitan dengan zikir ruangannya adalah luas. Adapun mengkhususkan sebahagian daripada tempat dan waktu untuk melakukan sebahagian daripada amalan soleh secara berterusan adalah termasuk dalam perkara yang disyariatkan selagi mana seseorang yang melakukan amalan tersebut tidak beri’tiqod (menjadikannya sebagai pegangan) ; bahawa perkara tersebut adalah wajib di sisi syara’ yang membawa hukum berdosa sekiranya meninggalkannya.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبً” – متفق عليه .

Hadis daripada Ibnu Umar R.A telah berkata : “Nabi S.A.W akan mendatangi masjid Quba pada setiap hari Sabtu samada dengan berjalan ataupun menaiki tunggangan.”

-Riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim.

Berkata Al-Hafiz Ibnu Hajar di dalam kitabnya (Fathul Bari) :

“Di dalam hadis ini walaupun berbeza jalan-jalan pengriwayatannya menunjukkan kepada (hukum) harus mengkhususkan sebahagian hari-hari untuk melakukan sebahagian daripada amalan-amalan soleh serta melakukannya secara berterusan.”

-tamat

Berkata Ibnu Rajab Al-Hanbali di dalam kitabnya (Lathoif Al-Ma’arif) :

“Ulama’ di Syam telah berselisih pandangan dalam menyifatkan cara untuk menghidupkan malam nisfu Sya’ban kepada dua pandangan.

Pertamanya :

Adalah disunatkan menghidupkan malamnya secara berjamaah di masjid.

Khalid ibn Ma’dan dan Luqman ibn ‘Amir dan selain daripada mereka telah memakai sebaik-baik pakaian, dan mengenakan wangian serta mengenakan celak pada mata serta mendirikan malamnya dengan ibadah.

Dan Ishaq ibn Rahuyah bersepakat dengan pandangan mereka terhadap perkara tersebut dan berkata dalam masalah mendirikan malamnya dengan ibadah di masjid secara berjamaah : “Perkara tersebut tidaklah menjadi bid’ah.” Kalam ini dinukilkan oleh Harb Al-Kirmani di dalam kitab Masail nya.

Keduanya :

Sifatnya adalah makruh penghimpunan pada malamnya di masjid untuk melakukan solat serta bercerita dan berdoa. Dan tidak makruh sekiranya seseorang itu melakukan solat secara bersendirian. Ini adalah pandangan Al-Auzaie Imam Ahli Syam dan Ahli Faqeh dan ‘Alim.” -tamat

Kesimpulannya :

Maka menghidupkan malam nisfu Sya’ban sama ada secara berjamaah ataupun secara bersendirian sebagaimana sifat yang masyhur dikalangan orang ramai dan selainnya adalah perkara yang disyariatkan dan tidaklah menjadi bid’ah dan tidaklah menjadi makruh dengan syarat tidak menjadikan amalan tersebut sebagai suatu kemestian dan kewajipan.

Sekiranya amalan tersebut diwajibkan ke atas orang lain serta menghukum kepada mereka yang tidak mengikutinya dengan hukum berdosa maka menghukumkan dengan hukum dosa itu yang menjadi bid’ah kerana mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan RasulNya S.A.W. Inilah makna yang menjadikannya makruh sebagaimana pandangan para salafussoleh terhadap hukum makruh dalam menghidupkan malam nisfu Sya’ban. Adapun menghidupkan malamnya sebagaimana hakikat asalnya maka perkara tersebut adalah disyariatkan dan tidaklah menjadi makruh.

Sumber :

Majalah Minbar Al-Islam, keluaran tahun ke-(68), bil (8) Sya’ban 1430, m/s 136.

Sunday, July 11, 2010

PENYAKIT 'AIN



Apa Itu Penyakit ‘Ain?

Kadang orang tua merasa panik dan merasa aneh ketika tiba-tiba permata hatinya menangis terus sepanjang hari tanpa ada sebab yang pasti, sakit….tidak juga, digigit serangga pun tidak. Lalu…?

Penyakit yang diderita anak-anak tidak semuanya bisa dideteksi dengan ilmu kedokteran. Ada juga sebab syar’i yaitu penyakit ‘ain. Sebagaimana pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pernah melihat anak perempuan di rumah Ummu Salamah istri beliau. Di wajah anak itu ada warna kehitaman. Beliau kemudian berkata kepada Ummu Salamah: “Ruqyahlah dia, karena dia terkena ‘ain.” (H.R Bukhari dan Muslim)

Di hadits yang lain juga diceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh anak-anak pamannya untuk diruqyah karena badannya kurus-kurus seperti anak yang kekurangan.

Penyakit ‘ain atau pandangan mata adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang dianggap menakjubkan disertai dengan rasa dengki, sehingga mengakibatkan bahaya terhadap yang dipandangnya. ‘Ain juga dapat terjadi dari pandangan yang penuh kekaguman tanpa disertai rasa dengki, bahkan bisa terjadi dari orang yang shalih. Sebagaiman pernah terjadi pada sahabat Nabi, Sahl bin Hunaif yang terkena ‘ain dari sahabat yang lain, yaitu Amir bin Rabiah.

Penyakit ‘ain itu benar-benar ada dan bukan khurafat yang dihubung-hubungkan dengan pujian. Sebagaiman anggapan sebagian besar masyarakat Indonesia bahwa pujian kepada seorang anak akan menyebabkab sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “’Ain itu benar adanya. Seandainay ada sesuatu yang bisa mendahului takdir, tentu akan didahului oleh ‘ain.” (Riwayat Muslim)

Jadi bukan pujian yang menyebabkan dampak buruk bagi anak yang dipujinya, melainkan bermula dari pandangan mata sang pemujinya, baik pujian itu karena ada rasa iri atau karena benar-benar ada kekaguman.

Tindakan Preventif Terhadap Penyakit ‘Ain

Para orang tua hendaknya berusaha melindungi buah hatinya agar terhindar dari penyakit ‘ain, dengan cara:

1. Melindungi diri dan anaknya dengan membaca ruqyah-ruqyah yang diajarkan dalam Islam dan membaca doa: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, binatang berbisa, dan dari setiap mata yang jahat.”(Riwayat Bukhari)

2. Juga membaca doa yang digunakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melindungi Hasan dan Husain: “Aku berlindung kepada Allah untukmu berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala setan, binatang yang berbisa, dan pandangan mata yang jahat.” (Riwayat Bukhari)

3. Siapapun orangnya jika melihat sesuatu yang baik ada pada dirinya, anaknya, hartanya atau yang lainnya yang menakjubkan dirinya, hendaklah membaca doa: “ Masya Allah (atas kehendak Allah), tidak ada kekuatan melainkan hanya dengan (pertolongan) Allah. Ya Allah, berikan berkah padanya.”

4. Sebaiknya orang tua tidak mengungkapkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki anaknya, karena hal itu dikhawatirkan akan menimbulkan iri pada orang lain.

Apabila Terkena ‘Ain

Saat anak kita mengalami sakit dan ternyata sakitnya karena ‘ain, maka: Jika pelakunya diketahui, maka orang tersebut diperintahkan untuk berwudhu. Bekas wudhu orang tersebut digunakan untuk memandikan anak yang terkena ‘ain.

Tapi jika tidak diketahui perbanyak membaca surat Al-Ikhlas, muawwidzatain (An-Nas dan Al-Falaq), Al-Fatihah, ayat Kursi, 2 ayat terakhir surat Al-Baqarah, dan mendoakan dengan doa-doa yang disyariatkan. Membaca pada air disertai tiupan, kemudian diminumkan pada anak yang sakit dan sisanya disiramkan ke tubuhya, atau dibacakan pada minyak dan minyaknya dioleskan ke tubuhnya. Lebih baik lagi jika bacaan itu dibacakan pada air zam-zam.

Orang tua mana yang tidak ingin anaknya dapat tumbuh dengan sehat dan selamat. Oleh karenanya perlu bagi orang tua untuk senantiasa memperhatikan kondisi jasmani maupun psikolagi anaknya, baik ditinjau dari sisi kedokteran secara umum atau secara syar’i. Wallahu a’lam…

Thursday, July 8, 2010

JADIKAN BUAH LEMON ITU MINUMAN YANG MANIS



Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda.

Ketika Rasulullah s.a.w. diusir dari Makkah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah negara yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah.

Ahmad ibn Hanbal pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. Ibnu Taimiyyah pernah di penjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku
sebanyak dua puluh jilid.

Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadits. Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan karena itu ia menguasai qiraah sab'ah.

Malik ibn ar-Raib adalah penderita suatu penyakit yang mematikan, namun ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah dan tak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. Lalu, ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati
meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyiannyanyian
puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali.

Begitulah, ketika tertimpa suatu musibah, Anda harus melihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberi Anda segelas air lemon, Anda perlu menambah sesendok gula ke dalamnya. Ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain. Ketika disengat kala jengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh Anda dari bahaya bisa ular.

Kendalikan diri Anda dalam berbagai kesulitan yang Anda hadapi! Dengan begitu, Anda akan dapat mempersembahkan bunga mawar dan melati yang harum kepada kami. Dan,
{Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.} (QS. Al-Baqarah: 216)

KEUTAMAAN MENYEBARKAN ASSALAAMU'ALAIKUM



Sebagai ajaran Rabbani Islam memang lengkap dan sempurna. Islam mengatur segenap urusan kehidupan manusia dari perkara yang paling kecil hingga perkara yang paling besar. Dari urusan yang bersifat individual hingga urusan sosial.

Salah satu tuntunan Islam ialah perkara bertegur sapa antara seorang beriman dengan Muslim lainnya. Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mencontohkan bahwa bila seorang Muslim berjumpa dengan Muslim lainnya, maka hendaklah ia mengucapkan sapaan khas Islam yaitu As-Salamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh, artinya Salam damai untukmu dan semoga Rahmat dan Keberkahan Allah menyertaimu. Subhanallah…! Begitu indahnya tegur-sapa yang diajarkan agama Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman.

Bahkan dalam suatu kesempatan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan tindakan mengucapkan salam sebagai bentuk ajaran Islam yang lebih baik. Menebar salam disetarakan dengan memberi makanan kepada orang yang dalam kesusahan.

Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: “Manakah ajaran Islam yang lebih baik?” Rasul shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Hendaklah engkau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak.” (HR Bukhary)

Dalam hadits yang lain Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan korelasi antara mengucapkan salam dengan saling mencinta antara satu Muslim dengan Muslim lainnya. Kemudian korelasi antara saling mencinta dengan keimanan. Kemudian akhirnya korelasi antara beriman dengan izin dari Allah untuk masuk surga, negeri keabadian yang penuh dengan kesenangan abadi.

Berkata Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Kalian tidak beriman secara sempurna sehingga kalian saling mencinta. Maukah kalian aku tunjukkan suatu perkara bila kalian lakukan akan saling mencinta? Biasakanlah mengucapkan salam di antara kalian (apabila berjumpa).” (HR Muslim)

Dengan kata lain Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ingin menjelaskan bahwa kumpulan Muslim yang tidak suka saling menebar salam maka tidak akan saling mencinta. Bila atmosfir saling mencinta tidak ada, maka keimanannya diragukan keberadaannya. Dan jika keimanannya diragukan, maka kemungkinan masuk surga-pun menjadi kecil.

Saudaraku, marilah kita berlomba untuk masuk surga dengan jalan senantiasa menebar salam satu sama lain di antara sesama kaum muslimin. Sungguh sederhana, namun sebagian kita enggan melakukannya. Padahal akibat yang ditimbulkannya menjadi idaman setiap Muslim: Masuk surga…! Bukankah ini bentuk kompetisi satu-satunya yang dibenarkan Allah untuk diperebutkan di antara sesama Muslim?

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (QS Ali Imran ayat 133)

Ya Allah, aku mohon kepadaMu akan RidhaMu dan SurgaMu dan aku berlindung kepadaMu dari MurkaMu dan NerakaMu.

QADHA' DAN QADAR


(Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan dia telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.}(QS. Al-Hadid: 22)

Tinta pena telah mengering, lembaran-lembaran catatan ketentuan telah disimpan, setiap perkara telah diputuskan dan takdir telah ditetapkan. Maka,{Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami."}(QS. At-Taubah: 51)

Apa yang membuat Anda benar, maka tak akan membuat Anda salah. Sebaliknya, apa yang membuat Anda salah, maka tidak akan membuat Anda benar. Jika keyakinan tersebut tertanam kuat pada jiwa Anda dan kukuh bersemayam dalam hati Anda, maka setiap bencana akan menjadi karunia, setiap ujian menjadi anugerah, dan setiap peristiwa menjadi penghargaan dan pahala.

"Barangsiapa yang oleh Allah dikehendaki menjadi baik maka ia akan diuji
oleh-Nya." (Al Hadits)

Karena itu, jangan pernah merasa gundah dan bersedih dikarenakan suatu penyakit, kematian yang semakin dekat, kerugian harta, atau rumah terbakar. Betapapun, sesungguhnya Sang Maha Pencipta telah menentukan segala sesuatunya dan takdir telah bicara. Usaha dan upaya dapat sedemikian rupa, tetapi hak untuk menentukan tetap mutlak milik Allah.

Pahala telah tercapai, dan dosa sudah terhapus. Maka, berbahagialah orang-orang yang tertimpa musibah atas kesabaran dan kerelaan mereka terhadap Yang Maha Mengambil, Maha Pemberi, Maha Mengekang lagi Maha Lapang. {Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.} (QS. Al-Anbiya: 23)

Syaraf-syaraf Anda akan tetap tegang, kegundahan jiwa Anda tak akan reda, dan kecemasan di dada Anda tak akan pernah sirna, sebelum Anda benar-benar beriman terhadap qadha' dan qadar.

Tinta pena telah mengering bersamaan dengan semua hal yang akan Anda temui. Maka, jangan biarkan diri Anda larut kesedihan. Jangan mengira diri Anda sanggup melakukan segala upaya untuk menahan tembok yang akan runtuh, membendung air yang akan meluap, menahan angin agar tak bertiup, atau memelihara kaca agar tak pecah.

Adalah tak benar bila semua itu dapat terjadi dengan paksaanku dan paksaanmu, karena apa yang telah digariskan akan terjadi. Setiap ketentuan akan berjalan dan semua keputusan akan terlaksana. Demikianlah "orang bebas memilih; boleh percaya dan tidak"
Anda harus menyerahkan semua hal kepada takdir agar tak ditindas oleh bala tentara kebencian, penyesalan dan kebinasaan.

Dan, percayalah dengan kebenaran qadha' sebelum Anda dilanda banjir penyesalan! Dengan begitu, jiwa Anda akan tetap tenang menjalani segala daya upaya dan cara
yang memang harus ditempuh. Dan bila kemudian terjadi hal-hal yang tidak Anda inginkan, maka itu pun merupakan bagian dari ketentuan yang memang harus terjadi. Jangan pula pernah berandai, "Seandainya saja aku melakukan seperti ini, niscaya akan begini dan begini jadinya." Tapi katakanlah, "Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki akan Dia lakukan." (Al-Hadits)

TETESAN AIR MATA SYURGA


Allah berfirman, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’:109).

- ”Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 82).

- “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam : 58).

- “Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.” (QS. Ad-Dukhan: 29).

- “Dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm: 43).

- “Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?” (QS. An-Najm: 60).

- Rasulullah bersabda, “Tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah; …(dan disebutkan diantaranya) seseorang yang berdzikir (ingat) kepada Allah dalam kesendiriannya kemudian air matanya mengalir” (HR. al-Bukhari, Muslim dan lain-lainya ).

- Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk ke dalam api neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu ibu (yang sudah diminum oleh anaknya) kembali ke tempat asalnya (payudaranya-pent).” (HR.at-Tirmidzi no.2311, sanad hasan)

- Sabda Rasulullah , “Barangsiapa yang mengingat Allah kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi niscaya dia tidak akan diazab pada hari kiamat kelak” (HR. Al-Hakim dan dia berkata sanadnya shahih).

- Dari Abu Hurairah , Nabi bersabda, “Semua mata pada hari Kiamat nanti akan menangis kecuali (ada beberapa mata yang tidak menangis), pertama : mata yang dijaga dari hal-hal yang diharamkan Allah, kedua : mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah, ketiga : mata yang darinya keluar sesuatu (menangis) walau (air mata yang keluar) hanya sekecil kepala seekor lalat karena takut pada Allah” (HR.Ashbahani).

- Dari Ibnu Mas’ud , Nabi bersabda, “Setiap mukmin yang meneteskan air mata karena takut kepada Allah walau hanya sekecil kepala seekor lalat, lalu air matanya itu membasahi pipinya niscaya Allah haramkan neraka untuk menyentuhnya.” (HR.Ibnu Majah, al-Baihaqi).

- Dari al-Abbas Bin Abdul Muthallib , Nabi bersabda, “Dua jenis mata yang tidak tersentuh api neraka, (pertama) mata yang menangis (ditengah kesendirian) dimalam hari karena takut pada Allah , dan (kedua) mata yang digunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah.” (HR. At-Thabrani).

- Dari Uqbah bin Amir , dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah bagaimana caranya agar selamat? Rasulullah bersabda: ‘Kendalikan lisanmu, hendaknya rumahmu membuatmu merasa nyaman (untuk beribadah), dan menangislah karena dosa-dosamu.” (HR: At-Tirmidzi, hadits hasan, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

- Dari Zaid Bin Arqom , dia berkata, “Seseorang bertanya kepada Rasulullah , “Ya Rasulullah dengan apa aku membentengi diri dari api neraka? Rasulullah menjawab, “Dengan air matamu, karena mata yang menangis karena takut pada Allah niscaya neraka tidak akan menyentuhnya selama-lamanya” ( HR. Ibnu Abi Dunya dan Ashbahany ).

- Dari Abu Hurairah , Nabi bersabda, “Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.” (HR: Al-Bukhari di Adabul Mufrad, dan Ibnu Majah dengan sanad jayyid).

LAKUKANLAH HAL-HAL YANG BERMANFAAT


Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu bahwasanya beliau berkata:
“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah Subhanahu wa Ta'ala dari seorang hamba adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”

‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa beranggapan perkataannya merupakan bagian dari perbuatannya (niscaya) menjadi sedikit perkataannya, kecuali dalam perkara yang bermanfaat baginya.”

‘Umar bin Qais Al-Mula’i rahimahullahu berkata:
Seseorang melewati Luqman (Al-Hakim) di saat manusia berkerumun di sisinya. Orang tersebut berkata kepada Luqman: “Bukankah engkau dahulu budak bani Fulan?” Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu berkata lagi, “Engkau yang dulu menggembala (ternak) di sekitar gunung ini dan itu?” Luqman menjawab: “Benar.”
Orang itu bertanya lagi: “Lalu apa yang menyebabkanmu meraih kedudukan sebagaimana yang aku lihat ini?” Luqman menjawab: “Selalu jujur dalam berucap dan banyak berdiam dari perkara-perkara yang tiada berfaedah bagi diriku.”

Abu ‘Ubaidah meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu bahwasanya beliau berkata:
“Termasuk tanda-tanda berpalingnya Allah Subhanahu wa Ta'ala dari seorang hamba adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”

Sahl At-Tustari rahimahullahu berkata:
“Barangsiapa (suka) berbicara mengenai permasalahan yang tidak ada manfaatnya niscaya diharamkan baginya kejujuran.”

Ma’ruf rahimahullahu berkata: “Pembicaraan seorang hamba tentang masalah-masalah yang tidak ada faedahnya merupakan kehinaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala (untuknya).”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/290-294)